The Person Who Once Loved Me

Standar

wpid-the-person-who-once-loved-me1.jpg

The Person Who Once Loved Me
Main Cast:
Park Chorong
Nam Woohyun

Poster: raeri@artwrokerfromffindo
——————————–

” Kya ” Gadis itu berteriak, dia menutup telinganya. Dia berjongkok tubuhnya gemetar. Airmata mengalir deras di pipinya.
Gadis itu nampak ketakutan, nafasnya mulai tak karuan.
Dia benar-benar kacau.
” Onnie gwechanna? Mian aku terlambat ” Seorang perempuan yang basah kuyup akibat menerjang hujan deras datang memeluknya, menghangatkannya.
Bomi, langsung datang secepat kilat sesaat setelah hujan turun.
Ia tahu onnienya, Chorong sangat takut pada hujan apalagi disertai petir seperti saat ini.
Dia tidak tahu pasti kenapa Chorong sangat takut pada hujan, Chorong juga takut sendirian, Chorong akan merasa gelisah saat ia sendirian. Maka dari itu Bomi sangat memperhatikan onnienya itu.
” Onnie gwechannayo, ada aku disini ” Bomi mengelus pelan rambut Chorong mencoba membuatnya tenang. Tapi Chorong masih ketakutan.

” Ya Nam Woohyun tenanglah ” Pria berpipi chubby bermata sipit itu tampak menahan seorang pria yang sedang liar.
Pria itu membuang semua barang yang ada.
” Tenanglah Nam Woohyun ” Sunggyu, Nama pria yang menenangkan Woohyun yang sedang mengamuk itu.
Sunggyu menahan Woohyun dari belakang, dia tidak tahu berapa lama di bisa menahan Woohyun karena Woohyun benar-benar di luar kendali.
Selalu begini, di saat hujan turun Woohyun akan selalu mengamuk layaknya monster yang lepas kendali.
Sunggyu sudah terbiasa untuk menenangkan Woohyun yang lepas kendali.
Woohyun sendiri tidak mengerti kenapa dia merasa marah, kesal di saat hujan turun.
Yang jelas pada saat hujan turun ia merasa tertekan, seperti semua amarah sudah lama di pendamnya dan berontak ingin keluar.
——————————–

Chorong merekatkan erat selimut yang dipakaikan padanya.
Perasaan takut itu masih ada walaupun hujan sudah berhenti.
Entahlah namun hati Chorong selalu merasa ada ketakutan yang amat kuat saat hujan tiba.
” Ini diminum dulu onnie ” Bomi datang menghampiri Chorong yang masih terduduk kaku, membawakan segelas minuman hangat.
” Maaf karena aku terlambat datang onnie ” Bomi memeluk Chorong yang tetap terdiam kaku, wajah Chorong pucat, benar-benar pucat. Matanya bengkak akibat terlalu banyak menangis.
Chorong menyesap minuman hangat yang Bomi bawakan tadi. Berharap ketakutannya hilang walau sedikit bersama uap.

Sunggyu menatap Woohyun adik sekaligus sahabat kesayangannya yang sedang terbaring kelelahan di lantai.
Demi melampiaskan kemarahan Woohyun di buatkanlah tempat khusus untuk Woohyun melampiaskan kemarahannya. Di sana terdapat karung samsak, arena menembak dan berbagai macam arena pertandingan lainnya.
Biasanya Woohyun akan di masukkan ke sana jika hujan turun, untuk menghindari kerusakkan yang tak terhingga.
Sunggyu melihat setitik airmata turun dari mata Woohyun, Sunggyu tahu Woohyun akan selalu menangis setelah ia selesai mengamuk.
Sunggyu merasa kasihan tapi dia tidak tahu cara apalagi yang harus ia lakukan agar bisa membuat Woohyun  berhenti mengamuk.
——————————–

Airmata Chorong tidak mau berhenti, badannya gemetar hebat.
Dengan tangannya yang bergetar hebat Chorong berusaha menekan beberapa tombol di handphonenya.
” Cepat datang ke sini, kumohon, datanglah ” Lirih bahkan nyari tak terdengar Chorong memohon pada seseorang di seberang sana agar cepat datang menjemputnya yang hampir mata ketakutan karena hujan di halte bus.
Kaki Chorong sudah tak mampu lagi menopang tubuhnya, terlalu lemas, tidak ada tenaga.
Chorong terduduk di halte bis yang basah.
Dia menekan-nekan dadanya yang sakit.
Mencoba menutup telinganya agar tak mendengar suara hujan dengan tangan yang satu lagi, namun nihil. Suara turunnya air itu masih mampu ia dengar.
Dengan nafas yang sudah tidak beraturan Chorong terus memanggil orang di seberang sana, berharap ia cepat datang.
Chorong tak perduli jika semua orang memandangnya aneh atau gila. Takut, dia terlalu takut bahkan untuk membuka mata saja dia takut.
” Aaa ” Chorong berteriak saat tetesan air hujan membasahi dirinya.
Tubuh Chorong semakin menggigil.
Dia benar-benar takut, dia hanya ingin pulang dan berlindung saat ini juga.

” Buk ” Woohyun terus mengarahkan tinjunya pada karung samsak. Tak perduli tangannya yang sudah memerah akibat terlalu banyak memukul.
” Hhhh ” Woohyun mencoba mengatur nafasnya yang tak karuan seiring dengan emosinya.
Dikarenakan musim hujan mau tak mah Woohyun harus sering-sering berada di ruangan yang di khususkan untuk dirinya tersebut.
Untuk mencegah kejadian yang mungkin akan berbahaya, jika membiarkan di dilepas di saat amarahnya memuncak.
——————————–

Hari ini Chorong akan bekerja di perusahaan barunya, setelah sekian lama melamar kerja ke sana kemari akhirnya Chorong di terima juga untuk bekerja.
” Onnie apa kau yakin akan baik-baik saja? Bagaimana jika hujan datang? ” Tanya Bomi khawatir
” Tentu saja kau harus menjemput onnie ”
” Onnie ini selalu saja, baiklah, jika hujan tunggu aku jangan berani-beraninya onnie pergi dengan orang lain ”
” Ya! ”

” Annyeong haseyo joneun Park Chorong imnida ” Chorong memperkenalkan dirinya pada beberapa pegawai yang akan bekerja sama dengannya.
” Baiklah silahkan duduk di tempatmu nona Park ” Seorang pria yang sedari tadi menemani Chorong menyuruhnya untuk duduk.
” Oh selamat pagi Direktur Nam ” Woohyun hanya tersenyum kepada setiap orang yang menyapanya.
” Kudengar ada karyawan baru di sini ” Kata Woohyun sambil mengedarkan pandangannya mencari karyawan baru yang di sebut-sebut itu.
” Iya ini dia sajangnim, namanya Park Chorong ”
Saat dimana mata Woohyun dan Chorong bertemu satu sama lain, seketika hati mereka berdua menjadi sakit, sakit sekali seperti di remas oleh seseorang dengan kuat.
” Aku merindukanmu ” Entah mengapa hati mereka berdua berkata bahwa mereka rindu, amat merindukan sosok yang berdiri di hadapan mereka saat ini. Padahal mereka sendiri baru mengenal satu sama lain.
” Woohyun-ah ” Sunggyu menepuk pundak Woohyun pelan,  menyadarkannya dari perasaan aneh yang menyelimutinya.
” Ah ya ” Jawab Woohyun melepas kontak matanya dengan Chorong, Dia tidak mau. Woohyun tidak mau, saat menatap Chorong hatinya sakit, sakit sekali. Bahkan airmatanya juga harus ia tahan agar tidak mengalir.
Gadis itu aneh.
” Kau tidak apa-apa? Kau terlihat sakit ” Tanya Sunggyu yang khawatir melihat perubahan di diri Woohyun
” Aku hanya butuh istirahat sebentar saja hyung ” Jawab Woohyun lalu berjalan pergi.
Berat, hatinya berat. Saat dia berjalan pergi entah kenapa hatinya terasa berat.
Seakan menahannya untuk tetap tinggal.

Chorong mengigit bibirnya keras, tidak peduli mulutnya itu akan berdarah atau robek.
Bola matanya hanya terfokus pada satu tujuan.
Nam Woohyun.
Lelaki yang baru saja ia temuii.
Sakit, Chorong terus berusaha menahan dadanya yang sakit bagaikan di remas-remas.
Nafasnya naik-turun tidak karuan.
Air mata Chorong ingin mengalir namun ia tahan, entah berapa lama Chorong bisa bertahan.
Kakinya sudah tidak mampu menopang badannya.
Chorong terduduk di kursinya.
Chorong tidak tahu apa yang merasukinya tetapi saat ia melihat pria yang bernama Woohyun itu hatinya sakit, pikirannya kacau.
Jiwanya memberontak tidak sejalan dengan pikirannya.
Jiwanya terus kesakitan, menjerit namun ada perasaan rindu di situ.
Di balik semua kesakitan yang Chorong rasakan, ada satu perasaan yang terus membuat Chorong tak mengerti.
Perasaan hangat yang membuat semua perasaan sakit itu berkurang.
Rindu, saat bertemu Woohyun di samping hatinya sakit tidak tertahankan ada perasaan bahagia, bahagia karena ia bisa bertemu dengan Woohyun orang yang ia rindukan.
Tapi bukankah itu aneh? Bagaimana ia bisa sakit dan rindu pada seseorang yang baru pertama kali ia lihat??
——————————–

Woohyun terduduk sesaat setelah ia menutup pintu ruang kerjanya.
Ia membenamkan wajahnya dalam-dalam.
Tetesan air mengalir dari kedua bola matanya begitu saja.
Woohyun ingin berteriak, ingin melampiaskan amarahnya namun ia tahan.
Woohyun memukul dadanya yang terus merasakan sakit.
Sakit yang membuatnya lemah.
Ada apa? Kenapa tiba-tiba Woohyun seperti ini?
Padahal saat ini cuaca sedang sangat cerah.
Aku merindukanmu, entah kenapa kata-kata itu ingin Woohyun ucapakan sesaat setelah ia melihat Chorong gadis yang baru saja ia temuii.
Woohyun merindukannya tapi ia harus menahanya.
Ia tak tahu mengapa tapi ia merasa bahwa akan lebih baik jika ia menahannya.
Gadis itu, Woohyun, dia amat merindukannya.
Sampai-sampai hatinya sakit karena merindukannya.
——————————–

Semenjak saat itu Chorong memutuskan untuk tidak bertemu lagi dengan Woohyun.
Dia mengusahakan berbagai cara agar ia tidak perlu bertemu Woohyun meskipun Woohyun adalah direkturnya.
Karena semuanya baik-baik saja jika ia tidak bertemu Woohyun dan hujan.
” Ah sudah jam segini lebih baik aku pulang ” Chorong melirik ke arah jamnya yang menunjukan jam 5 sore yang artinya dia sudah harus pulang jika tidak

ingin bertemu dengan ketakutan terbesarnya. Hujan.
Dengan langkah yang cepat Chorong berjalan di lorong kantor.
Langit sudah mulai menunjukkan tanda-tanda dia akan hujan.
Chorong menyuruh Bomi cepat datang menjemputnya, ia tidak mau kejadian beberapa waktu lalu terulang lagi.
Dimana ia berakhir ketakutan sendirian di halte bis yang berujung dengan di bawanya dia ke rumah sakit oleh masyarakat.
Dia baik-baik saja, Chorong tidak mengalami gangguan mental hanya saja dia memang bereaksi seperti itu ketika hujan datang, sakit dan ketakutan seakan ada sesuatu yang berharga di diri Chorong yang di ambil paksa.
” Buk ” Karena Chorong tidak memperhatikan seksama dia menubruk seseorang ketika berjalan.
” Jeosonghamnida ” Chorong membungkukan badannya, meminta maaf.
Tubuh Chorong menjadi kaku, tak bisa bergerak, sesaat setelah dia mengangkat kepalanya untuk melihat siapa yang ia tabrak. Woohyun.
Terjadi lagi, rasa sakit dan rindu yang menyelimuti Chorong datang kembali.
Chorong tak tahu apa yang harus ia lakukan, ia ingin bergerak pergi namun tubuhnya tak mau bergerak.
Nafas Chorong mulai tak beraturan seiring dengan rasa sakit di hatinya yanf mulai terasa.
Airmatanya ingin mengalir namun ia tahan, ia tak ingin. Chorong tak ingin menangis di hadapan laki-laki ini.
Tubuh Chorong mulai gemetar dan saat itu syaraf kupingnya menangkap suara air deras yang berjatuhan. Hujan, rupanya hujan sudah turun.
Seketika airmata yang sedari tadi Chorong tahan turun.
Namun Chorong masih belum memutuskan kontak matanya dengan Woohyun.
Tidak sampai Woohyun berbalik pergi, memutuskan kontak batin yang menyakitkan di antara mereka.
Tubuh Chorong sudah tidak mampu lagi berdiri, Chorong terjatuh di lantai.
Airmatanya bertambah deras, rasa sakit di hatinya terus bertambah seiring dengan langkah kaki Woohyun yang semakin lama semakin menjauh.
Hujan di luar gedung semakin lama semakin deras, menambah semua penderitaan Chorong menjadi satu.
” Kajima ” Kata Chorong lirih namun Woohyun tak mendengar ia terus berjalan semakin jauh.
” Kajima… Kajima… ” Lirih Chorong terus menerus
” KAJIMA ” Chorong berteriak, memandang punggung Woohyun yang tampak jauh dan dingin.
Langkah Woohyun terhenti, dia berbalik menatap Chorong yang terduduk di lantai dengan kedua tangannya yang menutupi kedua telinganya seakan tidak mau mendengar apapun.
Woohyun menatap mata Chorong yang sudah basah oleh airmata, tubuhnya yang bergetar hebat akibat takut dan sakit.
Saat melihat Chorong seperti itu, hatinya bagaikan disayat oleh pedang. Perih.
Ia ingin berjalan ke arah Chorong, memeluknya dan menenangkannya.
Tetapi sesuatu menahannya, sesuatu menyuruhnya untuk pergi.
Woohyun berbalik arah, meninggalkan Chorong yang terus memintanya untuk tidak pergi, meninggalkan Chorong yang ketakutan sendirian.
Seiring dengan langkah kaki Woohyun, Chorong semakin histeris, Chorong tak ingin lelaki itu pergi.
Walaupun Chorong sudah memintanya ribuan kali namun lelaki itu, Nam Woohyun, terus berjalan meninggalkannya yang kesakitan melihatnya pergi.
Woohyun menangis dalam pelukan Sunggyu, dia juga sakit. Melihat Chorong seperti itu, meninggalkan Chorong sendirian. Dia juga sakit namun sesuatu menyuruhnya pergi, pergi meninggalkan Chorong walaupun ia tak ingin.
Woohyun berteriak tertahan di pundak Sunggyu.
Ia kesal, sedih dan sakit.
Tangannya memukul-mukul pelan dada Sunggyu.
Melampiaskan emosinya.
Woohyun tak tahu kenapa ia begini, hujan di luar membuatnya kesal dan sakit. Namun mendengar Chorong merintih memintanya untuk tetap tinggal itu membuatnya sedih, sedih yang tak berakhir.

Beberapa rekan kerja Chorong memeluk Chorong, menenangkannya yang masih histeris setelah Woohyun berjalan pergi meninggalkannya begitu saja.
Bahkan Chorong tidak perduli dengan Bomi yang sudah puluhan kali menghubunginya. Hapenya terus bergetar di lantai namun Chorong tak perduli.
Suara tangisan Chorong memenuhi seluruh lorong.
Chorong terlihat depresi.
Dia terus mengatakan kajima. Namun Woohyun tidak kembali.
Hujan memang membuatnya sakit dan ketakutan namun semua itu tidak sebanding dengan rasa sakit dan kehilangan yang Chorong rasakan saat Woohyun berbalik meninggalkannya sendirian, bersama hujan yang paling ia takuti.
——————————–

Terapi? Semenjak kejadian histerisnya Chorong di kantor beberapa waktu lalu rekan-rekan kerja Chorong menyarankan Chorong untuk terapi, pergi ke psikiater mungkin itu bisa membuat Chorong menjadi tenang.
Chorong masih memikirkan ide untuk pergi ke psikiater sembari menapakai jalanan Seoul yang luas.
Karena sekarang musim hujan Chorong tidak suka keluar, ia takut akan terkena hujan. Namun Bomi hari ini tidak ada di rumahnya, sendirian hanya akan memnuatnya gelisah tak karuan. Jadi Chorong memutuskan untuk berjalan keluar mencari udara segar.
Tik tik.
Tetesan air hujan secara tiba-tiba membasahi tubuh Chorong.
Chorong langsung berlari, mencari tempat aman untuk berlindung.
” Chorong ” Langkah Chorong terhenti saat seseorang memanggilnya.
Chorong membalikkan badannya, mencari tahu siapa yang memanggilnya.
Nam Woohyun, lelaki yang akhir-akhir ini membuat Chorong tak karuan.
Selangkah demi selangkah, setapak demi setapak, Woohyun berjalan mendekati Chorong yang hanya berdiri mematung memperhatikannya.
Debaran hati Chorong berdebar dengan keras seiring dengan semakin dekat jarak antara Woohyun dan Chorong.
Dugeun, dugeun, dugeun.
Jantung Chorong terasa seperti meledak saat Woohyun berdiri tepat di hadapannya.
Chorong memiliki waktu yang sulit untuk mengontrol jantungnya yang bertingkah aneh, tak seperti biasanya. Ada apa ini?
” Park Chorong ” Deg, jantung Chorong seakan berhenti berdetak saat Woohyun memanggil namanya.
Chorong hanya terdiam, dia terus menatap mata Woohyun, lekat dan semakin dalam.
” Park Chorong, siapa kau sebenarnya? ” Woohyun menatap mata Chorong, bertanya dengan pasti.
Woohyun yakin dia tidak mengenal wanita ini, namun mengapa rasanya ia tak asing dengan wanita  di hadapannya ini?
Kenapa? Kenapa dia harus merasa sakit melihat gadis ini sakit? Kenapa?
Jantung Woohyun berdebar menunggu jawaban dari mulut Chorong.
” Itu pertanyaanku ” Di tengah derasnya basuhan air hujan, Woohyun melihat jelas mata Chorong terlihat pilu.
” Seharusnya aku yang bertanya begitu, siapa kau? Kenapa kau melakukan tidak, kenapa hatiku sakit saat melihatmu namun pada saat itu juga aku merindukanmu, aku selalu mencarimu, untuk melihatmu, dan saat itu juga semakin aku melihatmu, semakin aku sakit dan semakin aku merindukanmu. Kau… Siapa kau sebenarnya? Beraninya kau membuatku seperti ini ” Samar-samar, tertutup oleh tetesan air hujan yang mengalir, Chorong menangis untuk kesekian kalinya karena pria ini, Nam Woohyun.
Hati Nam Woohyun sakit, entah mengapa ia bisa melihat air mata Chorong yang tersamar itu.
Woohyun mendekap erat Chorong dalam pelukannya, mencoba menenangkan Chorong.
” Aku tidak tahu, kepalaku tidak mengenali siapa dirimu, tapi hatiku… Hatiku mengenalimu, Park Chorong ” Bisik Nam Woohyun tepat di kuping Chorong.
Chorong membenamkan kepalanya di pundak Woohyun. Jawaban dari mulut Woohyun menggantung tapi cukup membuatnya bahagia, ya Chorong juga begitu, kepalanya tak tahu siapa Woohyun namun hatinya tahu siapa Woohyun.
” Aku merindukanmu Park Chorong ” Woohyun memperat pelukannya.
” Kau benar-benar orang jahat Nam Woohyun ” Ucap Chorong.
Woohyun melepas pelukannya, melihat mata Chorong, tak mengerti apa yang Chorong bicarakan.
” Kau tahu, aku takut hujan, itu menyiksaku, aku benci kau, kau selalu membuatku sakit. Dan saat kau dan hujan bertemu bukankah seharusnya aku menjadi gila? Tapi kenapa… Aku merasa nyaman, untuk pertama kalinya aku tak takut pada hujan, dan aku tidak sakit melihatmu ” Perkataan Chorong berhasil membuat Woohyun tersenyum lebar.
” Aku juga, aku benci hujan, aku akan menjadi setan gila yang mengamuk jika hujan datang, dan melihatmu… Itu menyiksaku. Namun saat ini, seperti yang kau lihat sendiri, aku baik-baik saja, bersamamu ” Kini giliran Chorong yang tersenyum karena perkataan Nam Woohyun.
Saat mata mereka bertemu, saat itulah jantung mereka terus berdetak dengan cepat.
” Mungkin kau akan bosan, namun aku benar merindukanmu Park Chorong ” Pada saat itu Woohyun mendekatkan bibirnya ke bibir Chorong perlahan demi perlahan, memberi kesempatan bagi gadis itu untuk menghindar. Namun Chorong tak juga menghindar malah menutup matanya, memberi lampu hijau untuk Woohyun.
Bibir mereka berdua bertemu, bertautan satu sama lain. Mencoba mengalirkan perasaan rindu yang tertahan selama ini.
Kupu-kupu mulai beterbangan di perut mereka.
Kecupan yang cukup lama itu terhenti saat suara Bomi yang memanggil Chorong terdengar.
Rupanya Bomi berdiri di belakang Woohyun, memegang payung.
” Bomi-ya ” Kata Chorong gugup, malu.
” Hyung ” Kata Woohyun saat melihat Sunggyu berdiri tak jauh dari Chorong, terlihat sedang bersemu merah.
Akhirnya Woohyun dan Chorong sadar bahwa Sunggyu dan Bomi datang untuk menjemput mereka.
Dengan canggung Woohyun dan Chorong pun berpisah.

” Onnie lelaki itu, yang tempo hari kau bicarakan? ” Tanya Bomi
Chorong hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Wajahnya memerah, namun satu yang tak hilang, senyum yang sedari tadi terus mengembang.
” Ah Bomi, nampaknya kita harus ke psikiater ” Seketika Chorong teringat dengan usul pergi ke psikiater.
” Psikiater? Kau serius onnie? ” Tanya Bomi memastikan yang di balas anggukan oleh Chorong.

” Hyung berhenti tertawa ” Woohyun memohon kepada Sunggyu yang sedari tadi terus terkikik
” Ada apa hyung? Apa yang terjadi pada Woohyun? ” Tanya Dongwoo yang sedang menyetir mobil.
Sunggyu tertawa semakin kencang saat Dongwoo bertanya, yamg membuat Woohyun harus memukulnya untuk membuat Sunggyu diam.
” Dongwoo-ya kau tahu Woohyun… Dia… ” Perkataan Sunggyu terpotong dengan tawanya sendiri.
” Hyung ” Woohyun merengek
” Dia habis berciuman dengan seorang wanita di tengah jalan, memalukan sekali ” Tawa Dongwoo meledak sesaat setelah mendengar cerita Sunggyu.
Woohyun merenggut kesal, merasa dikhianati.
” Tapi, ini pertama kalinya kau tidak membuat masalah saat hujan Woohyun-ah ” Ucap Dongwoo.
Woohyun hanya tersenyum simpul mendengar ucapan Dongwoo.
” Hyung arahkan mobilnya ke psikiater ” Perintah Woohyun.
——————————–
” Jadi apa yang bisa saya bantu nona Park ” Tanya Dokter Psikiater pada Chorong.
Chorong menghela nafasnya sebelum akhirnya ia menjawab pertanyaan.
” Aku… Takut pada hujan, jika hujan datang aku selalu merasakan ketakutan yang amat dalam, aku juga tidak suka sendirian, aku akan gelisah jika sendirian, dan aku tidak tahu apa penyebabnya. Dan aku bertemu dengan seorang pria, aku baru pertama kali bertemu dengannya namun saat aku melihatnya hatiku sakit, sakit sekali, namun di saat yang sama aku juga merindukannya, amat merindukannya. Aku tak tahu kenapa semua itu bisa terjadi ”
” Baiklah sekarang kita akan mencari tahu jawaban masalahmu, sekarang tarik nafas yang dalam dan keluarkan, tarik nafas keluarkan, tarik nafas dan tidur ”
Sesaat kemudian Chorong sudah jatuh tertidur. Bomi yang menemaninya hanya bisa berdoa untuk Chorong.
” Sekarang di hadapanmu ada sebuah pintu, pintu itu adalah jawaban dari semua masalahmu, cobalah buka pintu itu ” Tuntun sang dokter.
” Apa yang kau lihat? ”
” Hujan, hujan yang amat deras ada aku dan dia ”
” Apakah dia lelaki yang sama dengan pria yang kau maksud tadi? ” Chorong hanya mengangguk.
” Lalu? ”
Chorong tiba-tiba menangis, tak tahu apa sebabnya.
Aku menatap kedua matanya, aku bertanya padanya ‘ Kau, apa kau mencintaiku? Kau mencintaiku juga bukan? ‘ Dia menggeleng lalu berkata ‘ Tidak, aku tidak mencintaimu ‘ Aku tidak percaya, aku yakin dia bohong karena aku tahu pasti dia juga mencintaiku. ‘ Kau bohong kan? Kau bercanda kan? Iya kan? ‘ Aku terus tidak percaya sampai dia berkata... ” Perkataan Chorong terhenti, airmatanya terus mengalir, isakan Chorong mulai keluar. Psikiater menahan Bomi yang ingin menenangkannya.
” Lalu setelah itu? ”
Chorong berteriak, dia memukul-mukul kencang dadanya. Dengan isak tangis Chorong melanjutkan ceritanya.
” Dia berkata…‘ Aku tidak bercanda, aku menyukai Choa, bukan kau. Aku mendekatimu agar bisa mendapatkannya dan sekarang aku sudah mendapatkannya. Kau, aku hanya menipu, salahmu jika kau tertipu, kau begitu bodoh, kau terlalu naif, kau pikir kau mampu membuatku bertekuk lutut mencintaimu? Buang jauh-jauh mimpimu! Sejak awal aku hanya memanfaatkanmu, aku tidak pernah melihatmu, bagiku kau hanya sampah ‘ Saat itu juga hatiku bagaikan di hancurkan berkeping-keping, rasanya sakit. Jadi selama ini dia hanya memanfaatkanku, selama ini dia tersenyum bukan untukku tapi untuk orang lain, hatiku sakit, sangat sakit. Dia berjalan meninggalkanku yang menangis bersama tetesan air hujan. ‘ Jadi kau akan pergi meninggalkanku sendirian? ‘ Tanyaku ‘ Aku sudah bersamanya, tak ada alasan lagi bagiku untuk bersamamu, aku muak bersamamu ‘ Dan dengan itu setengah jiwaku serasa terangkat, melayang pergi. ‘ Kajima ‘ Aku terus memintanya pergi namun ia terus berjalan pergi tanpa kembali ‘ Kajima jebal kajima ‘ Aku memohon padanya tapi dia tidak berhenti. Aku terjatuh, hatiku sakit, air mataku mengalir sama derasnya dengan hujan yang turun. Aku terus memintannya untuk tidak pergi tapi dia terus pergi ” Nafas Chorong mulai tak karuan, air mata mulai mengalir deras.
” KAJIMA ” Chorong berteriak, rambutnya sudah acak-acakan.
” Kajima, jebal kajima ” Chorong terus meronta, meminta untuk tidak pergi. Chorong menangis lebih banyak dari biasanya.
Bomi tidak bisa melakukan apa-apa selaiin melihat Chorong menderita.
” Kajima, jebal niga piryohae ” Dalam lirih Chorong terus menangis.

Sunggyu dan Dongwoo hanya bisa menahan Woohyun yang terus meronta, mengamuk di ruang psikiater. Woohyun terus berteriak dan berteriak.
” Aku berbohong, ketika aku bilang aku tidak mencintainya aku berbohong, dia… Aku amat mencintainya, sangat mencintainya. Hatiku sakit, saat dia memintaku untuk tidak pergi hatiku sakit. Tapi aku tidak bisa melakukan apapun melainkan hanya berjalan pergi meninggalkannya yang menderita di belakangku, saat itu aku bersumpah jika aku hidup sekali lagi aku akan mencintainya dan takkan pernah melepaskannya, tidak perduli jika semua orang ingin memisahkanku dengannya, karena aku mencintainya ” Air mata Woohyun mengalir deras di ruang psikiater, tempat yang sama dengan Chorong.
” Lalu kenapa kau meninggalkannya? ”
” AAAAA ” Woohyun berteriak, dia mulai mengamuk, lebih ganas dari biasanya dan sebelumnya.
Mereka, mereka memaksaku untuk meninggalkannya, aku tidak punya pilihan lain. ” Woohyun menjambak rambutnya sendiri. Frustasi.
Di tengah hujan aku marah, marah pada diriku sendiri, marah pada mereka yang memisahkanku dari dia, dari separuh hatiku
Woohyun tergeletak di lantai akibat dia sendiri yang mengamuk tak terkendali. Woohyun menangis, dia memeluk dirinya sendiri.
” Mian… Jeongmal mianhe ” Dengan parau Woohyun meminta maaf, pada dia… Yang dia tinggalkan.
——————————–
Setelah menangis berjam-jam dan berteriak kajima. Akhirnya Chorong sudah sedikit lebih tenang.
Chorong akhirnya tahu bahwa dulu di masa lalu ia pernah di buang di saat hujan oleh masa lalu Woohyun, yang dia terus menderita hingga di kehidupan selanjutnya.
Begitu pula dengan Woohyun dia mendapat perawatan ringan akibat mengamuk liar berjam-jam. Mata Woohyun bengkak karena terlalu banyak menangis.
Woohyun kini tahu alasan mengapa ia selama ini seperti itu.
——————————–

Setelah mengetahui bahwa di kehidupan sebelumnya Woohyun pernah membuangnya begitu saja, akhirnya Chorong memutuskan untuk menghindari Woohyun.
Entahlah Chorong rasa menghindari pria itu adalah pilihan yang tepat.
Walaupun beberapa kali Woohyun sempat mencoba untuk mendekatinya namun Chorong selalu mencoba untuk mendorongnya menjauh. Chorong tak mau, hanya dia tak mau.
Walaupun sudah mengetahui alasan kenapa selama ini ia seperti itu, namun nampaknya hati Chorong masih tertuju pada bayangan masa lalu.
Seperti waktu itu saat Woohyun tiba-tiba berjalan sambil tersenyum ke arahnya, Chorong pikir Woohyun akan datang menghampirinya namun ternyata Woohyun malah menghampiri rekan kerjanya yang lain.
Tiba-tiba saja di kepala Chorong terngiang, ‘ Dia tersenyum bukan untukku ‘. Saat itu juga hati Chorong kembali sakit.
Chorong menjerit, berjongkok. Kalimat itu terus berputar-putar di kepala Chorong.
Chorong menangis saat kilasan adegan di masa lalu terputar, saat Woohyun juga sedang tersenyum namun  bukan untuknya.
Chorong mulai berteriak dan menangis.
” Hajima ” Kata Chorong lirih.
Woohyun mendekati Chorong yang ketakutan.
Hati Woohyun seperti tersayat pedang saat Chorong menderita seperti itu. Perlahan-lahan Woohyun berjalan mendekati Chorong yang berjongkok sambil menangis karena ketakutan.
” Hajima ” Woohyun bisa mendengar rintihan Chorong di balik tangisnya.
” Chorong-ah ” Tangan Woohyun menyentuh pundak Chorong.
” HAJIMA ” Teriak Chorong saat tangan Woohyun menyentuhnya.
” Chorong-ah ” Kata Woohyun memanggil Chorong lagi. Dia sakit, dia tidak mau Chorong seperti ini, dia ingin menenangkan Chorong dalam pelukannya.
” Hajima…. Jangan lakukan itu kataku “
” Park Chorong “
” JANGAN LAKUKAN ITU KATAKU ” Chorong berteriak, dengan matanya yang masih mengeluarkan airmata Chorong menatap Woohyun. Memperingatkannya lewat matanya.
Woohyun terdiam, dia bagaikan di jatuhkan dari menara tinggi. Sakit.
Saat melihat Chorong menatapnya dengan tatapan sedih dan benci. Itu menyakitkan.
Dengan gontai Woohyun akhirnya memutuskan meninggalkan Chorong sesuai permintaanya.

” PARK CHORONG ” Dengan nafas yang tersenggal-senggal Woohyun menghampiri Chorong yang sedari tadi ia panggil namun tak menjawab.
” Woohyun ”
” Iya ini aku, kenapa kau tidak mendengar aku memanggilmu? ” Masih dengan nafas yang tersenggal namun sekarang lebih baik.
” Apa yang kau lakukan? ”
” Aku tidak tahan, tidak bertemu denganmu aku tidak tahan.Walaupun saat melihatmu aku masih merasakan sakit tapi aku lebih  memilih sakit di bandingkan tidak bertemu denganmu. Karena tidak bertemu denganmu… Itu membuatku jauh lebih sakit ” Chorong terdiam mendengar perkataan Woohyun.
Dia juga, Chorong juga. Walaupun sakit dia lebih menyukai Woohyun berada di jarak pandangnya di bandingkan Woohyun yang tidak ada di jarak pandangnya.
” Kumohon jangan hindari aku lagi Park Chorong, aku merindukanmu… Aku merindukanmu sampai-sampai ini sulit jika tanpamu ” Woohyun menatap kedua bola mata Chorong. Mencoba berbicara dari mata ke mata, hati ke hati.
Chorong terkesimak melihat mata Woohyun, matanya menunjukan seberapa besar Woohyun merindukannya.
” Woohyun… Aku… ”
” Aku membutuhkanmu Park Chorong, aku membutuhkanmu… Sebelum kau hadir aku adalah monster yang bisa melenyapkan apa saja ketika hujan datang. Denganmu, bersamamu. Aku adalah Nam Woohyun yang baik-baik saja jika hujan datang. Aku membutuhkanmu. Hatiku punya lubang yamg besar akibat dulu… Dulu aku mencapakanmu. Tapi sekarang aku sudah lebih kuat, aku dulu jatuh cinta padamu dan meninggalkanmu dan sekarang aku jatuh cinta lagi padamu dan takkan pernah lagi meninggalkanmu. Park Chorong, aku membutuhkanmu untuk menutupi lubang di hatiku, aku membutuhkanmu untuk melengkapi jiwaku yang ikut pergi karenamu. Aku membutuhkanmu untuk menjadi pelengkapmu. Karena aku tanpamu bukanlah aku. Aku mencintaimu Park Chorong ” Airmata Chorong menetes bukan karena sedih, sakit maupun takut.
Namun karena dia bahagia, bahagia bahwa kenyataanya Woohyun  juga merasakan hal yang sama dengannya. Woohyun benar, bersama Woohyun, Chorong merasa lengkap.
Woohyun adalah pelengkap dari hati dan jiwanya yang tak utuh.
Chorong membutuhkan Woohyun untuk berada di sampingnya, menghilangkan semua rasa takut yang menyelimutinya.
Dan di atas segala itu, Chorong membutuhkannya karena Chorong mencintainya, Nam Woohyun, Chorong mencintainya.
Jemari Woohyun mengusap airmata Chorong yang mengalir, menghapusnya.
” Aku minta maaf atas apa yang terjadi di masa lalu, sekarang aku tak sebodoh itu, aku akan menjagamu bukan meninggalkanmu, aku akan menghapus airmatamu bukan membuatmu menangis, karena aku bukanlah dia Park Chorong, aku Nam Woohyun. Dan akan kupastikan kau bahagia berada di sampingku sebahagia aku di sampingmu ”
Chorong tersenyum, itu yang dia butuhkan. Dia tidak perduli atas apa yang terjadi di masa lalu, karena dia hidup di masa sekarang sebagai Park Chorong. Dan jika dia masih terlibat dengan masa lalunya itu adalah hatinya dan jiwanya yang masih dan selalu mencintai Nam Woohyun pria di hadapannya ini.
” Berjanjilah padaku ” Kata Chorong
” Pasti ” Saat itu juga bibir mereka berdua kembali bertemu, mencoba mencurahkan segala cinta yang mereka punya. Mencoba menghapus semua mimpi buruk, karena mereka di takdirkan untuk satu sama lain.
-The End-

annyeong ^^ aku kembali bawa ff sad lagu u,u tapi ini happy ending ko 😀

mian ya kalo feelnya kurang kerasa atau gimana… kalo ada yang kurang jelas atau mau kritik dan saran comment aja ^^

and last… Don’t Be SIDERS and Keep RCL

Iklan

7 respons untuk ‘The Person Who Once Loved Me

    • myungsoo naeun udh ada liat aja judulnya * infinite love * di fanfict library
      kalo sunggyu eunji lagi dalam penulisan doaiin aja cepet di publish
      kalo hoya hayoung insyallah abis sunggyu eunji

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s