Part of Me is… Part 2

Standar

partofmeis

Part Of Me Is… Part 2
Main Cast:
Amber Josephine Liu
Henry Lau
Kris Wu
Cast:
Kim Key Bum
Lee Donghae

Poster: so @sohwaart.wordpress.com

Inspired By; Japanese Comic The Day After Revolution
——————————–

” Ah berisik. ” Gumam Amber sambil mematikan alarm handphonenya yang sudah berbunyi sedari tadi.
‘ Kau harus bangun dan mandi lebih awal. ‘ Itu adalah kata-kata ajaib yang keluar di layar handphone Amber.
Mengingatkan Amber akan status dirinya saat ini.
” Ah benar. ” Jadi dengan malas Amber berjalan menuju kamar mandi setelah sebelumnya ia melirik teman sekamarnya Key yang masih belum terbangun.
Tentu saja ini jam 5 di pagi hari.
Waktu yang masih pagi untuk anak laki-laki.

Biasanya Amber akan bangun jam 6 lewat lalu berebut kamar mandi dengan Key. Jika ia kalah maka ia akan mandi di ‘ Pemandian Umum ‘ dimana para siswa yang tidak kebagian kamar mandi akan mandi bersama-sama untuk mempersingkat waktu.
Mengingat Amber sudah tidak bisa melakukan hal itu lagi, jadi Amber memutuskan untuk bangun lebih awal. Agar bisa mandi dengan tenang.

Pancuran air yang sejuk di pagi hari mengawali hari pertama Amber sebagai seorang perempuan.
Amber menatap lama dirinya di dalam kaca.
Mencermati perubahan tubuhnya dengan seksama.
‘ Ah jadi seperti ini tubuh seorang perempuan. Ini aneh karena biasanya aku hanya melihat mereka di majalah dan video saja. ‘ Gumam Amber pelan sambil menyentuh beberapa ‘ titik ‘ di tubuhnya.
Mata Amber berpaling ke arah kain putih yang terpampang dengan jelas di hadapannya.
Mom bilang untuk berjaga-jaga Amber harus memakai ini. Agar identitasnya tidak ketahuan.
Amber melilitkan kertas putih itu ke bagian atas tubuhnya.
Menutupi payudaranya.
Yah walaupun belum ‘ bertumbuh ‘ tapi siapa tahu itu bisa menggagalkan rencana Amber.
” Ya cepat keluar, aku juga ingin mandi tahu. ”  Terdengar suara Key yang memprotesnya di depan pintu kamar mandi.
” Arasso. ” Amber langsung buru-buru memakai baju seragamnya.
——————————–

” Kau yakin kau baik-baik saja? Kau tidak masuk sekolah cukup lama, lalu waktu itu kau menangis hebat. Apa kau yakin kau baik-baik saja? ” Tanya Key yang khawatir karena Amber berkata bahwa tidak ada yang salah pada dirinya. Dia hanya kelelahan saja.
” I’m okay, aku hanya sedikit terguncang saja waktu kau datang menjenguk. ” Amber memukul pelan lengan Key. Memastikan bahwa ia baik-baik saja jadi Key tidak perlu khawatir.
Karena Amber berkata bahwa ia baik-baik saja jadi Key membuang jauh-jauh pikiran buruknya tentang kesehatan Amber dan bercanda dengan Amber seperti biasa.
” Ouch, God DAMN IT! ” Sebuah makian keluar dari mulut orang di hadapan Amber.
Terlalu asik bercanda dengan Key membuat Amber menjadi tidak fokus dengan apa yang ada di depannya, membuat Amber menabrak orang yang sedang membawa semangkuk penuh Kimchi Jiggae.
Dan sialnya orang itu adalah Henry. Musuh bebuyutannya.
” Shit, tidak bisakah kau berjalan menggunakan mata? Hei pendek. ” Kata Henry mengumpat Amber sambil mencoba membersihkan seragamnya yang sudah berubah warna menjadi merah ke oren-an akibat terkena tumpahan Kimchi Jiggae yang ia bawa untuk sarapan.
” Sorry. Tapi itu juga salahmu. Seharusnya kau melihatku sedang berjalan ke arahmu. ” Ucap Amber tak mau sepenuhnya di salahkan.
” Excuse me, tapi apakah aku harus melihatmu? Memangnya kau siapa? Lagipula kau kan tak terlihat pendek. ”
” YA! MEMANGNYA KAU TIDAK PENDEK KAU HANYA LEBIH TINGGI SEDIKIT SAJA! ” Amber meninggikan suaranya. Namun Henry tidak bergidik sedikitpun. Melainkan malah semakin menantang Amber.
” Terima saja jika kau pendek. Dan kenapa kau membentakku? Kau seharusnya meminta maaf karena sudah menumpah Jiggae ini ke seragamku! Aku sudah mandi, sudah bersih. Kini harus ternodai lagi karena dirimu. ”
” Minta maaf padamu? No way! Lebih baik aku mati daripada aku harus meminta maaf padamu. Dan satu lagi. Bersih tidak bisa di satukan denganmu. Kau hanya mahluk menjijikan yang banyak omong. ”
” APA KAU BILANG? ” Henry mencengkram kerah baju Amber dan bersiap memberinya pelajaran dengan tinjunya.
Namun tangan Kris menahan Henry dengan cepat.
Kris menggelengkan kepalanya. Menyuruh Henry untuk tidak berbuat apapun dengan Amber.
Henry melepaskan tangannya yang mencengkram kerah Amber dengan kasar.
Lalu segera pergi dari kantin yang sudah mulai di penuhi banyak orang akibat pertarungan kecil antara dirinya dengan Amber.
——————————–
” Ya! Kenapa kau tadi menahanku? Si kecil itu sudah hampir mati di tanganku jika bukan karena dirimu. ” Keluh Henry seraya mencuci seragamnya di wastafel kamar mandi.
” Kau tidak bisa membuat keributan. Lagipula si Amber itu kan baru sembuh dari sakit. Bagaimana jika ia sakit lagi? ” Ucap Kris menjelaskan alasan mengapa ia menahan Henry tadi.
Tangan Henry berhenti mengucek noda di bajunya dan melihat ke arah Kris dengan penuh selidik.
” Jangan-jangan kau tertarik padanya? Kenapa kau begitu perduli padanya? Kau gay Kris? ” Tebak Henry yang mendapat pukulan di punggung dari Kris.
” Are you out of your mind? Aku hanya kasihan. Memangnya tidak boleh? Lagipula aku menyelamatkanmu. Kau akan habis jika tertangkap bertengkar dengan Amber lagi, kau ingat? ” ” Ah iya. ” Henry menganggukan kepalanya.
Otaknya mengingat ucapan Kepala Sekolahnya yang menegaskan bahwa sekali lagi ia dan Amber bertengkar maka mereka akan dihukum berat.
” Thanks dude. ”
” Hey Where are you going? ” Tanya Kris bingung melihat Henry yang keluar kamar mandi bersamanya bukannya menuju kelas malah mengambil jalan kembali ke asrama.
” Mood belajarku hancur gara-gara si pendek itu. Jadi bilang saja aku sakit okey? ” Kris hanya memutar bola matanya melihat kelakuan temannya yang seenaknya.
——————————–

Amber berlari secepat yang ia bisa.
Ada pelajaran olahraga hari ini. Pelajaran olahraga berarti ia harus ganti baju. Ganti baju disini ialah ia harus ganti baju bersama-sama dengan teman sekelasnya yang notabene pria.
Bukannya ia tidak bisa berganti baju bersama mereka. Ia bisa saja berganti baju di kamar mandi.
Hanya saja Amber teringat perkataan Mom
‘ Mulai detik ini kau dilarang untuk melihat bagian tubuh pria! Jadi kau tidak boleh ganti baju bersama mereka. Atau melihat mereka ganti baju! Kau wanita, mengerti Amber? ‘
Jadi Amber berlari menuju asrama. Satu-satunya tempat teraman dan terjauh.
Amber mengatur nafasnya yang ngos-ngosan akibat berlari dari gedung sekolah ke gedung asrama.
Dengan cepat ia mengelap keringat dan mengganti bajunya.
Lalu Amber kembali lagi, tidak mau ketinggalan pelajaran.
Pada saat ia menutup kamar handphonenya bergetar.
” Mom lebih baik ini penting. Aku sedang buru-buru. ”
‘ Apa kau sudah meminum obatmu? Sudah memakai kainmu? Tidak berganti baju dengan anak lelaki? ‘
” Ya Mom aku sudah memakai itu dan meminum obatku. Aku juga berganti baju di dalam asrama. Apa hanya itu yang ingin kau tanyakan? ”
‘ Tidak darling. Mom hanya mengingatkanmu bahwa kau harus pulabg setiap akhir minggu. Kau ingat kan? ‘
” Ah benar. Okay i got it. Aku akan pulang akhir minggu nanti. See you Mom. ”  Lalu Amber mematikan teleponnya dan kembali berlari menuju gedung sekolah.

” Ya Mom aku sudah meminum obatku dan memakai itu. Aku juga berganti baju di dalam asrama. Apa hanya itu yang ingin kau tanyakan? “ Suara itu berhasil membangunkan Henry dari tidur siangnya.
” Ah siapa itu yang berisik siang-siang begini? ” Gumam Henry sambil berjalan ke arah pintunya. Melihat siapa yang datang ke asrama di siang hari ini.
” Ah benar. Okay i got it. Aku akan pulang akhir minggu nanti. See you Mom. “
Henry berdecak kesal saat ia mengetahui bahwa rupanya Amber yang membuat keributan dan menganggu tidur siangnya.
Ya, kamarnya berada tepat di depan kamar Amber jadi tentu saja ia akan terbangun ketika mendengar suara Amber di lorong asrama.
” Hey tunggu dulu. Tadi dia bilang apa? Dia akan pulang akhir minggu nanti? Haha. ” Sebuah seringai jahat terpampang di wajah Henry begitu ia mengingat bahwa Amber bilang ia akan pulang ke rumah akhir minggu nanti.
——————————–

” Amber bolanya tendang kemari. ” Suara Luhan yang meneriakkan namanya membuat Amber tersadar dari lamunannya.
Amber yang memang berada di luar lapangan langsung mencari bola sepak yang di maksud oleh Luhan dan segere menendangnya ke arah Luhan.
” Thanks Amber. ” Kata Luhan segera setelah ia mendapatkan bola yang di berikan Amber.
Amber hanya tersenyum seraya tangannya membentuk tanda OK.
” Kenapa tidak main? Sudah tahu bahwa kau hanyalah penganggu? ” Sebuah suara yang sudah tidak asing di telinga Amber berbicara.
Amber menghela nafasnya sebelum ia menghadapkan wajahnya ke arah sang pemilik suara.
‘ Yang satu tidak ada disini, tetapi mahluk ini masih ada. ‘ Gumam Amber dalam hati, merutuki kenapa dua mahluk ini tidak pernah membiarkannya berada di dalam kedamaian.
” Excuse me, orang menyebalkan. Kau siapa seenaknya bahwa aku hanya menganggu? Apakah kau pernah bermain bola bersamaku? Ah aku lupa, kau kan laki-laki yang tidak bermain bola. Huh, kau bilang aku ini jadi-jadian. Tapi lihatlah, siapa yang nyatanya jadi-jadian? Bahkan menyentuhkan kaki di lapangan saja tidak pernah. ” Sindir Amber panjang lebar yang membuat lawan bicaranya ini segera naik darah dalam hitungan singkat.

” Sorry but football isnt my style. Hanya laki-laki kelas rendahan yang bermain bola. Kami orang-orang keren hanya bermain basket. ” Ucap Kris, lawan bicara Amber dengan percaya diri.

Amber hanya bisa memutar kedua bola matanya mendengar Kris selalu menyombongkan dirinya.
” Maafkan aku, tapi apa kau lupa sahabatmu yang sedang bolos itu juga seorang pemain bola? Ah, jadi selama ini kau menganggapnya cowok kelas rendahan. ”
” Shit. ” Amber hanya meringai licik saat ia berhasil membuat Kris skakmat akibat ucapannya sendiri.
Ini jarang terjadi, karena biasanya mereka akan menang dalam pertarungan adu mulut. Karena mereka berdua, Kris dan Henry benar-benar sangat percaya diri dan sombong.
” Amber. ” Beruntung Key datang memanggilnya jadi ia tak perlu berlama-lama lagi dengan lelaki menyebalkan di hadapannya yang siap melancarkan serangan selanjutnya untuk menjatuhkan Amber.

” Kenapa kau tidak bermain bola tadi? ” Pertanyaan dari Key membuat Amber menghentikkan langkahnya sejenak.
Wajahnya menjadi sedikit pilu setelah ia mendengar pertanyaan dari Key tentang alasan mengapa ia tidak ikut bermain bola tadi.
Huh, bukan sebuah rahasia umum lagi jikalau Amber termasuk salah satu pemain bola terhebat sekolah ini.
Jadi Amber dan sepakbola benar-benar tidak bisa dipisahkan.
Amber akan selalu ada di setiap permainan,  entah itu pertandingan maupun latihan.
Ia baru tidak akan hadir jika kakinya benar-benar tidak bisa di gerakkan, atau dunia kiamat.
Jadi itu adalah hal yang tidak wajar jika Amber tidak mengikuti pertandingan kecil-kecilan antar kelas tadi.
” Hanya sedang tidak ingin main. ” Ucap Amber berbohong yang membuat Key mendengus mendengarnya.
” Tidak perlu sampai berbohong, kau bisa mengatakan jika kau siap. ” Ucap Key sambil menepuk pelan pundak Amber.
Amber hanya mengangguk pelan. Ia lupa bahwa Key sangat mengerti tentang dirinya. Jadi percuma saja jika ia berbohong karena Key akan mengetahui secepat Amber mengedipkan mata.

Sebenarnya bukannya Amber tidak mau bermain bola lagi, bukan.
Hanya saja ini adalah perjanjian tak langsung antara Amber dan Mom.
Suatu waktu Mom berpikir bahwa seharusnya Amber berhenti melakukan kegiatan sepak bola mengingat itu bukanlah hal yang wanita lakukan.
Namun Mom tak memaksa Amber karena Mom tahu betapa cintanya Amber terhadap sepak bola. Karena menyuruh Amber berhenti bermain bola sama dengan menyuruh Amber berhenti bernafas.
Sepak bola sangat penting bagi Amber dan Mom tahu itu.
Namun siapa sangka bahwa Amber menyetujui usul asal-asalan Mom itu.
Menurut Amber tidak ada salahnya ia mencoba untuk berhenti bermain bola. Toh, ia sudah pernah kehilangan yang lebih penting daripada sepak bola.
Identitas dirinya.
Karena Amber sendiri sudah memutuskan untuk menjadi perempuan ( sebenarnya Mom yang memutuskan ) setidaknya Amber harus mengurangi sedikit demi sedikit sifat lelakinya itu.
Walaupun Amber tahu itu takkan mudah.
Jadi mari Amber mulai dengan berhenti bermain sepak bola dan beberapa hal lainnya akan menyusul.
——————————–

Kedua mata Amber meneliti pakaian yang di pamerkan oleh gadis berambut hitam panjang sedikit keunguan di hadapannya.
” NO WAY YOON BORA!!! ” Pekik Amber melengking membuat gadis yang bernama Yoon Bora itu harus menutup kedua lubang telinganya.
” Ini rok Yoon Bora! Aku tidak mau memakai ini. Aku tidak ke sini di hari weekend untuk mengenakkan sebuah rok! ”
” Justru karena kau sudah jauh-jauh datang di saat weekend kau harus menggenakannya. Kapan lagi kau bisa memakai rok? Ku jamin kau takkan memakainya saat kau di asrama. Ayolah. ” Bora menyodorkan rok yang di permasalahkan itu ke Amber.
” Ti-Dak! Aku tidak akan memakainya. ” Ucap Amber tegas sambil melempar kembali rok yang di berikan kepada Bora.
” Kau akan! Kau bilang kau mau belajar bagaimana cara menjadi wanita kan? Rok adalah simbol seorang wanita. ”
” Demi Tuhan Bora tapi tidak seperti ini! Kau bisa saja mengajariku bagaimana caranya duduk atau makan atau bersikap. Tidak aku tidak akan memakainya. ”
” Itu semua bisa kau pelajari nanti. Mulailah dari yang paling sulit. ”
” Hello? Bukankah seharusnya mulailah dari yang paling mudah? ”
” Di dalam kamus Yoon Bora semuanya harus di mulai dengan yang paling sulit. ” Perkataan sembarangan Bora membuat Amber harus memutar kedua bola matanya.
Dia benar-benar tidak habis pikir kenapa Momnya mengutus gadis terkutuk macam Yoon Bora sebagai gadis yang akan mengajarinya How-To-Be-A-Lady.
Gadis ini, Yoon Bora adalah anak dari Dokter yang menangani Amber.
Sang Dokter dan Bora sendiri bersedia dengan ikhlas saat Mom meminta Bora untuk mengajari Amber cara menjadi perempuan di setiap hari sabtu dan minggu tanpa bayaran.
Menyenangkan. Kata Bora.
Jadilah Amber harus mengorbankan hari liburnya untuk berlatih apapun yang Bora suruh demi menjadi seorang wanita yang baik dan benar.
” Nah sekarang buka celanamu yang jauh dari kata feminim ini dan menggantinya dengan rok berwarna pink pastel yang super duper cute ini. ” Ucap Bora sambil menunjuk celana yang di kenakan Amber dan rok yang sedari tadi ia pegang secara bergantian.
” Kau tidak benar-benar menyuruhku untuk mengganti celana keren-ku dengan rok menjijikkan itu kan? ” Tanya Amber memastikan bahwa Bora hanyalah main-main.
” Memangnya apa yang akan kau lakukan jika aku sungguh-sungguh? ” Bora malah menantang Amber.
” Bora, masih ada jiwa lelaki di diriku. Aku bisa melukaimu jika aku mau. ”
” Kau tidak akan melukaiku. ” Kata Bora enteng.
” Karena kau akan menurutiku. ” Kata Bora menyeringai penuh percaya diri.
” Why? ” Tanya Amber bingung kenapa Bora sangat percaya diri bahwa ia akan menuruti kata Bora dan memakai rok yang menurutnya menjijikkan.
” TTTAAANNTTEEEE ” Teriakan Bora berhasil membuat Amber panik dan langsung cepat-cepat menutup mulut Bora. Sebelum Mom datang kemari akibat teriakan super duper nyaring dari Bora.
” Baiklah aku akan memakainya jadi tutup mulutmu. ” Bora yang mulutnya masih di bekap oleh Amber mulai menggoyang-goyangkan rok yang ia pegang. Membuat Amber menariknya dengan kasar.
Amber menggerutu sambil mengganti celananya dengan rok.
‘ Seakan baju manis ini belum cukup, nenek sihir itu sudah menyuruhku memakai rok. Dan parahnya ini adalah hari pertama kita bertemu. ‘ Gumam Amber saat ia mengganti bajunya.
” Hey kenapa lama sekali? ” Teriak Bora dari luar pintu kamar Amber.
Amber dengan ogah-ogahan membuka pintu kamarnya dan menunjukkan kepada Bora penampilannya.
” Hemp, tidak buruk. Betismu kecil juga untuk ukuran pria. ”
” Aku wanita Bora. ”
” Oh ya sebelum kita keluar shopping kau harus memakai ini dulu. ” Tangan kanan Bora memberikan wig hitam panjang agar Amber bisa memakainya.
” Apakah ini juga harus? Tidak bisakah aku keluar dengan rambutku ini. ” Tanya Amber sambil memainkan rambut cepaknya.
” Kau tidak mau di bilang banci kan? ”
——————————–

Amber menghela nafasnya berat untuk keseratus kalinya.
Ia benar-benar tak habis pikir kenapa ia harus menghabiskan waktu akhir pekannya yang berharga bersama dengan Yoon Bora, gadis super duper bawel yang sedang memamerkan kemesraanya dengan pacarnya itu.
” Ya Josephine. ” Amber langsung memasang wajah paling bete yang pernah ia pasang ke arah Bora.
” Wae? Jika kau hanya ingin bercerita tentang kekasihmu yang-aku-bahkan-tidak-tahu-siapa-dia itu lagi lebih baik tidak usah memanggilku.” Ucap Amber ketus.
” Tapi nama Josephine itu benar-benar sangat aneh, aku tidak familiar dengan nama itu. Tidak bisakah kau menggantinya dengan nama yang lebih gampang? Jessica misalnya? ”
” Aku juga merasa awkward dengan nama itu. Tapi Mom bilang dia ingin sekali punya anak perempuan bernama Josephine. Bicara Jessica, pacar hyung-ku bernama Jessica jadi kita lupakan usul mengganti namaku dengan nama Jessica. ” Bora hanya mengangguk mengerti seraya berpikir nama perempuan apa yang cocok untuk Amber?

Langkah kaki Amber seketika berhenti saat ia menyadari seorang pria yang sedang berjalan di hadapannya saat ini.
” Henry ” Bisik Amber yang malah membuat Henry mengangkat kepalanya. Merasa namanya di panggil.
Buru-buru Amber menundukkan wajahnya.
Menyembunyikan mukanya. Tidak ingin Henry mengenalinya.
Ah di antara semua teman di asramanya kenapa harus Henry yang ia temui saat sedang menjadi wanita??
Henry memperlambat langkah kakinya. Meneliti wanita yang memakai baju dress pink soft itu.
‘ Terlihat seperti si kecil itu. Mungkin kembarannya. ‘ Gumam Henry masih mengamati gadis yang terlihat seperti Amber bagi dirinya itu.
‘ Si pendek itu cantik juga jika jadi wanita. ‘
” Guk. “ Gonggongan anjing puddle kecil berwarna putih yang berada dalam pelukan Henry menyadarkannya dari ilusi sesaatnya akan Amber berpakaian menjadi wanita lalu tersenyum manis ke arahnya.
” Aish, apa sih yang aku pikirkan. Kenapa aku membayangkan Si Kecil itu menjadi wanita lalu merayuku. Hii. Sadarlah Henry kau terlalu banyak bertemu pria. Kau harus keluar dan bertemu wanita lebih sering. ” Henry bergidik ngeri ketika ia kembali ke realita.

——————————–

” Ada apa ini? Ya, apa yang terjadi? ” Tanya Amber heran mengapa di depan pintu kamarnya ada begitu banyak orang.
” Guk. “ Suara anjing yang menyahut membuat Amber menolehkan kepalanya ke arah anjing kecil berwarna putih itu.
” Dog? Siapa yang membawa anjing itu kesini? Bukannya kita tidak boleh membawa binatang peliharaan? ” Cecar Amber bingung karena anjing itu malah asik bermain dengan buntutnya.
” Entahlah, tapi yang jelas anjing ini berasal dari kamarmu. ” Sahut Kris menjawab pertanyaan Amber.
” Dari kamarku? ” Amber menunjuk dirinya sendiri, bingung kenapa anjing kecil ini bisa berada di kamarnya.
” Ya Kibum-ah, kau membawa anjingmu kemari? ” Amber bertanya pada Key. Karena mereka berbagi kamar bersama. Jika bukan Amber yang membawanya, maka harusnya Key bukan?
” Aku? Ya. Aku memang punya anjing tapi bukan aku! Lagipula anjingku warnanya hitam dan coklat. Dia warnanya putih. ” Penyangkalan Key masuk akal juga. Lalu siapa yang membawa anjing ini masuk ke asrama dan menaruhnya di kamar Amber dan Key?
” Kenapa kita tidak bertanya pada anjing itu saja? ” Celetuk Henry yang membuat semua orang menoleh kepadanya.
Bertanya pada anjing? Sejak kapan anjing bisa berbicara?
” Bukankah anjing sangat setia? Kita arahkan saja dia. Maka dia akan menunjukkan kepada kita siapa pemiliknya. ” Henry menyunggingkan bibirnya sambil perlahan berjalan ke arah Amber.
Untuk sesaat Henry lupa akan fakta bahwa anjing adalah binatang yang setia.
Jadi, sedari tadi, dia berusaha keras untuk tidak membuat anjing itu menggongong atau berjalan ke arahnya.
Jadi, jika ia berada tepat di belakang Amber, kemungkinan besar Amber di curigai sebagai pemilik akan semakin besar.
Usaha yang bagus. Pikir Henry.
” Kita panggil anjing ini dan lihat kepada siapa dia akan datang. ” Usul seorang siswa yang di sambut baik oleh siswa-siswa yang lainnya.
” Siap, Mulai. ”
Saat itu juga semua siswa mulai sibuk memanggil anjing itu dengan berbagai nama panggilan.
anjing kecil ” ” anjing putih ” ” sayangku ” “ lucu ” ” dongsaeng ” “ putih ” atau bahkan hanya memanggilnya dengan anjing saja.
Awalnya, anjing putih itu terlihat bingung karena banyaknya suara serta orang yang mengelilinginya. Namun tak butuh waktu lama bagi anjing itu pergi berlari ke arah Amber, ke arah Henry lebih tepatnya.
Guk. ” Anjing itu berbunyi sambil duduk manis dengan keemlat kakinya dan buntut yang bergoyang kesana-kemari.
” Nampaknya anjing itu bener milikmu, pendek. ” Ucap Henry dengan nada penuh penekanan.
” Aku tidak tahu siapa anjing ini. ”
” Amber, jika anjing ini manusia, bisakah kau bayangkan betapa sakit hatinya saat mendengar kata-kata kejam itu dari mulutmu? ” Ucapan Henry semakin membuat Amber terlihat sebagai lelaki ( gadis ) yang jahat.
Amber hanya bisa termenung melihat lurus ke arah bola mata sang anjing yang menatapnya dengan puppy-eyes-nya.
” Akui sajalah Amber, mungkin hukumanmu bisa dikurangi oleh kepala sekolah. ” Ucap Jonghyun, salah satu siswa Moryong High School ini.
Sekeras apapun Amber mencoba berpikir ia tidak bisa menemukan alasan yang tepat untuk membuktikan bahwa ia bukanlah pemilik anjing putih itu.
Amber menutup kedua bola matanya dan mencoba berpikir. Dan pada saat itu, ia teringat sesuatu.
Segera Amber membalikkan badanya, mencengkram kuat kerah baju orang yang menurutnya harus bertanggung jawab atas semua ini dan mendorongnya ke dinding.
” Ya Henry Lau, ini jebakanmu kan? Kali ini juga ulahmu kan? ”
Bukan ekspresi takut, bingung atau ekspresi wajah sejenis itu yang tampak di muka Henry.
Melainkan sebuah smirk yang terpampang jelas.
” Kau menuduhku atas dasar apa pendek? ”
” Kau kan, kau kan yang menjebakku atas anjing ini?! ”
” Apa kau punya bukti? Jangan menuduhku, dan bertanggung jawablah atas hal yang kau lakukan Amber. ”
” Saat weekend aku melihatmu membawa seekor anjing. Kau pasti membawanya untuk hal ini kan? ”
” Jam berapa, dimana. Bisa kau beritahu aku? Jam berapa kau melihatku. Dan dimana kau melihatku. Jangan sembarangan pendek, aku sangat tidak suka pada orang yang memfitnahku. ”
” Bajingan. Kapan sih kau berhenti melakukan hal-hal murahan seperti ini? ” Tatapan mata Amber memancarkan amarah yang sangat besar terhadap pria yang kerah bajunya masih ia cengkram itu.
Jika tatapan bisa membunuh maka mungkin Henry bisa mati detik itu juga.
Cengkraman pada kerah Henry semakin kuat. Membuat Henry sedikit tertekan.
Tapi dia tidak boleh terlihat mengalami waktu yang sulit.
Atau dia akan di anggap kalah oleh pria yang jelas-jelas lebih kecil daripada dirinya itu.
Kedua bola mata Henry memberi kode kepada Kris, menyuruh Kris untuk membantunya.
Kris yang mengerti apa maksud Henry pun segera melangkahkan kakinya.
Namun Kris kalah cepat.
” Ada apa ini ribut-ribut? ” Seorang pria yang dilihat saja kita sudah tahu bahwa ia memiliki usia jauh lebih tua dibandingkan siswa-siswa disini. Melangkah masuk ke dalam lingkaran kerumunan siswa begitu saja.
” Pak kepala sekolah. ” Seketika itu juga semua siswa langsung menundukkan kepalanya.
Memberikan rasa hormat sekaligus takut.
Takut jika mereka di sangka terlibat dalam perkelahian yang hanya mengikutsertakan Amber dan Henry itu.
” Amber, Henry. Ulah apa lagi yang kalian perbuat? Bukankah terakhir kali aku sudah mengatakannya dengan jelas?! ” Ucap kepala sekolah dengan nada yang mengintimidasi.
Membuat Amber langsung melepaskan cengkramannya dan menundukkan kepalanya.
Sedangkan Henry hanya merapihkan kerahnya. Tak merasa takut sedikitpun.
Guk. ” Anjing kecil putih itu berbunyi sambil mengibas-ngibaskan ekor kecilnya.
” Anjing siapa ini? Bukankah tidak boleh ada peliharaan di asrama ini?! Anjing siapa ini? ”
Hening. Tak ada satu siswa pun yang menjawab pertanyaan sang kepala sekolah.
Mereka hanya melirik satu sama lain.
Berdiskusi secara bisu, hanya lewat tatapan mata, bertanya-bertanya apakah mereka harus memberitahu siapa pemilik anjing itu atau tidak.
” Itu anjing Amber. ”
Tentu saja jika bukan Henry, pasti Kris yang akan melaporkan kejadian ini pada kepala sekolah.
” Kau yakin Kris? ” Tanya kepalah sekolah memastikan ucapan Kris bisa di percaya atau tidak.
” Saya yakin karena anjing ini ditemukan di kamar Amber dan Key. Tapi itu tidak mungkin milik Key. ”
” Kenapa itu tidak mungkin milik Key? Atas dasar apa kau sembarangan menuduh Amber? ”
Kris hanya bisa menutup mulutnya. Ia tidak tahu alasan apa yang bisa ia pakai untuk menyudutkan Amber di depan kepala sekolah.
” Anjing itu berjalan ke arah Amber, Tuan.  ” Ucap Henry yang membuat kepala sekolah menoleh ke arahnya.
” Apa maksudnya itu? Tolong jelaskan Henry. ”
” Iya, jadi kami memutuskan untuk memanggil anjing itu bersama-sama untuk melihat kepada siapa anjing itu akan datang. Dan rupanya anjing itu datang ke Amber. ”
” Bohong. Dia menjebakku Pak. ”
” Pada akhir pekan aku melihatnya sedang menggendong anjing putih ini. Dia menjebakku. ”
” Hey pendek. Bukankah sudah kubilang untuk berhenti memfitnahku? Akui saja itu anjingmu. Lagipula dimana kau melihatku? Pada jam berapa? ”
” Sudah cukup. Saya tidak mau mendengar perdebatan kalian lagi. Amber, Henry keruangan saya sekarang. ”
” Dan kalian semua segera membubarkan diri dan pergi ke kelas masing-masing. ”
——————————–

” Jadi hal konyol apalagi yang kalian lakukan di asrama ini? ” Tanya Sang kepala sekolah dengan nada yang mengintimidasi.
Membuat Amber sedikit takut di buatnya.
” Aku tidak berbuat kesalahan apapun tuan. Manusia pendek yang menuduhku. Dia tidak mau bertanggung jawab atas apa yang ia lakukan. Dasar lelaki gak gentle. ” Perkataan Henry yang menjelek-jelekkan Amber di depan kepala sekolah membuat Amber kehilangan kata-kata.
Dari dulu Amber tidak mengerti.
Tuan Hwang, Sang kepala sekolah adalah orang yang paling disegani di sekolah ini. Namun Henry, dengan nyamannya ( bahkan ia tidak pernah menunjukkan raut wajah takut sedikitpun ketika kepala sekolah menghukumnya ) berbicara dengan kepala sekolah.
Apakah Henry dan Tuan Hwang memiliki hubungan diluar sekolah?
” Saya tidak mau mendengar penjelasan tidak masuk akal dari kalian. ”
” Kalian berdua ingat bukan, terakhir kali saya bilang bahwa jika kalian melakukan keributan lagi- ”
” Maka kami akan dihukum dengan berat. ” Tentu Amber ingat dengan jelas perkataan sang kepala sekolah kepada mereka beberapa bulan lalu.
Saat ia dan Henry membuat keributan di kelas yang mengakibatkan pelajaran harus berhenti total untuk melerai mereka.
Tuan Hwang bilang jika sekali lagi mereka berdua melakukan keributan maka Tuan Hwang akan menjamin untuk memberikan mereka hukuman yang sangat berat.
” Mulai sekarang, hingga waktu yang tak di tentukan. Kalian berdua akan menjadi teman satu kamar. ” Ucapan tidak masuk akal dari Tuan Hwang membuat Henry dan Amber kaget bukan main.
” Teman satu kamar?? Maksudnya berbagi tempat tidur, lemari, kamar mandi kepada satu sama lain? ”

” Yang selalu kami lihat wajahnya selama 24 jam?? ”
” Iya Henry, teman satu kamar yang itu. ” Tuan Hwang mengiyakan perkataan Henry yang memastikan teman satu kamar yang mana yang di maksud.
” Tunggu dulu Tuan. Ini tidak masuk akal. Bagaimana mungkin kami bisa menjadi teman satu kamar. He and me, in one room? No no no. ”
” Benar pak. Kenapa saya harus satu kamar dengan Henry. Bagaimana dengan Key dan Kris yang menjadi teman satu kamar kami? ”
” Kau sendiri tahu kan Tuan. Aku dan si pendek ini tidak bisa di satukan. Akan terjadi banyak masalah jika kami disatukan. Big trouble. ”
” Iya pak. Saya akan menerima hukuman apapun asal bukan menjadi teman satu kamar dia. Saya berjanji untuk tidak akan membuat keributan lagi. Malah saya akan berjanji untuk tidak berbicara dengan Henry lagi pak. ”
” Brak. “ ” Diam. ” Tuan Hwang memukul meja kerjanya. Membuat Henry dan Amber langsung terdiam seketika.
” Tentu saya tahu apa yang akan terjadi jika kalian di satukan di dalam satu kamar. Namun, setelah kupikir itu akan ada bagusnya.
Kalian bisa saling mengenal satu sama lain. Siapa tahu kalian malah akan menjadi bestfriend. ”
” Maldo andwae. ” Bisik Henry saat mendengar kata bestfriend di gabungkan dengan dia dan Amber.
Sst. ” Mata Tuan Hwang yang melotot ke arah Henry membuat Henry menutup kembali mulutnya yang terbuka.
” Kalian pasti merasa tidak nyaman bukan jika kalian menjadi teman satu kamar? ” Henry dan Amber mengangguk.
” Kalian pasti ingin menarik satu sama lain keluar dari kamar bukan? ” Kembali Amber dan Henry mengangguk.
” Kalian pasti berkata lebih baik kalian mati daripada harus berbagi kamar dengan satu sam lain kan? ”
” Kalian pasti merasa tidak sudi untuk bernafas di ruangan yang sama kan? ”
” Itulah tujuan dari hukuman ini. Kalian amat membenci satu sama lain dan ingin rasanya salah satu dari kalian menyingkir dari hadapan kalian. Namun apa yang bisa kalian lakukan? Kalian membenci satu sama lain tapi kalian harus melihat wajah satu sama lain pada pagi, siang dan malam setiap hari. Karena apa? Karena kalian teman satu kamar.
Dan tentu kalian ingat bahwa sesama teman satu kamar harus rukun dan saling membantu kan? ”
Dan pada saat itu juga Amber berharap bahwa tiba-tiba malaikat maut akan datang ke hadapannya dan mengambil nyawanya.
Atau ia berharap akan ada kebakaran atau apalah itu yang bisa menggagalkannya dari menjadi teman satu kamar Henry.
Ah seharusnya ia keluar saja dari sekolah ini dan bersekolah di sekolah biasa sebagai perempuan.
Oh betapa ia menyesali kenapa dia tidak menyetujui usul Mom-nya untuk pindah sekolah.
Jika saja ia tahu bahwa ia akan menjadi teman satu kamar Henry.

Henry hanya bisa membuang nafasnya berat.
Andai saja ia bisa teleportasi maka pada saat itu juga ia akan bertelportasi kemana saja, asal bukan ke tempat yang sama dengan si pendek yang berdiri di sampingnya.
Jika Tuhan itu adil, mengapa takdirnya harus sejelek ini?
Oh dia rela melakukan apa saja yang Tuan Hwang ingin ia lakukan. Bahkan meloncat ke lingkaran api sekalipun asal bukan menjadi teman satu kamar Amber untuk waktu yang tak di tentukan.
” Kalian sudah mengerti? Jika kalian sudah mengerti kalian bisa berkemas. Jika kalian pindah besok pagi akan lebih baik. ”
” Tapi pak- ” Perkataan Amber terpotong saat Tuan Hwang menatap Amber dengan mata yang mengatakan. Aku-tidak-menerima-penolakan. Jadi Amber membungkuk singkat dan segera pergi meninggalkan ruangan Tuan Hwang dengan hati berat.

” Apa kau marah Henry? ” Tanya Tuan Hwang sambil berjalan menghampiri Henry yang masih berdiri di ruangannya.
” No, hanya saja… Aku belum bisa menerimanya Tuan. ”
” Kenapa kau begitu kaku padaku? Kau terlihat seperti anak buahku jika kau mengucapkan kata Tuan dengan nada seperti itu. ” Tangan besar Tuan Hwang menepuk pelan pundak Henry.
” Ayo duduk. Sudah lama sekali kita tidak bicara. ”
” Kenapa kau tidak pernah mengunjungiku Henry-ya. Aku merindukanmu kau tahu? ”
” Kau tidak menganggap hubungan kita berakhir hanya karena kau memutuskan- ”
” Sama sekali tidak Tuan. Aku hanya bingung. Apakah aku harus menemui atau tidak saat kita sudah tidak lagi menjadi- ”
” Kenapa kau harus bingung. Kau bisa menemuiku kapan saja. Mungkin kita bisa berbicara santai lagi kapan-kapan seperti waktu itu. ”
” Ide yang bagus Tuan. ”
” Jadi bagaimana kabarmu? Apa kau baik-baik saja? Do you have a hard time? ”
Raut wajah Henry langsung berubah seketika. Ia nampak memiliki waktu yang sulit untuk sesaat.
” Untuk saat ini aku baik-baik saja. Tentu saja aku mempunyai waktu yang sulit. Nobody said it was easy. Tapi aku mencoba dengan keras. Berkata bahwa aku tidak apa-apa kepada diriku sebanyak ribuan kali. Dan inilah aku sekarang. ” Jawab Henry mencoba menunjukkan pada Tuan Hwang bahwa ia baik-baik saja sekarang.
” Is she alright? ” Tanya Henry dengan raut wajah serius yang sangat jarang ia tunjukkan.
” Yah dia baik-baik saja. Terkadang dia bertanya padaku tentang kabarmu atau apa yang kau lakukan. Apakah kau sudah menemukan kebahagiaan baru apa belum. ”
” That sounds really like her. Dia tidak berubah. ”
” Dia masih di amerika. Aku tidak tahu kapan dia akan kembali. ” Tuan Hwang memberi informasi yang sebenarnya tak Henry tanya. Namun Tuan Hwang hanya memberi tahu. Mungkin saja Henry penasaran tentang keberadaan dirinya.
” Jika dia menghubungimu lagi dan bertanya tentang diriku. Katakan padanya aku baik-baik saja. And tell her that i miss her and i wish she is doing well. ” Suara Henry terdengar sedikit bergetar. Jika kau sedikit memperhatikan, ada sebuah kesedihan yang terpancar di mata Henry. Namun Henry buru-buru tersenyum. Ia tidak boleh terlibat dalam kesedihan tak berujung sekali lagi.
Bukankah tadi dia sendiri yang bilang bahwa dia baik-baik saja?
” Mengenai hukumanku, tidak bisakah kau mengubahnya Tuan? Aku berjanji akan melakukan apapun yang kau mau Tuan. Tapi menjadi teman satu kamar dengan si pendek itu… ”
” Melakukan apa saja yang kumau? ”
” Yes, Everything you want. ”
” Bahkan jika aku memintamu kembali menjadi menantuku? ” Perkataan tak terduga dari Tuan Hwang membuat mulut Henry menutup dengan sendirinya. Ia menggigit bibir bawahnya. Nampak berpikir sejenak.
” Aku hanya bercanda, jangan kau anggap serius. Bahkan jika kau kembali menjadi menantuku, aku takkan mengubah keputusanku. Itu adalah hukuman terbaik untuk kalian berdua yang selalu membuat masalah. ”
” Dan lagi, berhenti memanggil Amber si pendek. Kau bahkan tidak tinggi. ”
” Tapi setidaknya aku lebih tinggi darinya. ” Tuan Hwang tertawa mendengar jawaban Henry yang sangat percaya diri.
——————————–

Amber menghela nafasnya berat saat ia berdiri tepat di depan pintu kamar Henry ( yang mulai sekarang juga akan menjadi kamarnya )
Tadi malam Henry datang dan berkata bahwa ia tidak mau pindah ke kamar Amber, menjijikkan katanya.
Jadi jika mereka harus sekamar, ia mau Amber yang pindah ke kamarnya.
Amber merutuk dalam hati. Bukan cuman Henry saja yang merasa jijik, Amber juga sebenarnya jijik jika ia harus pindah ke kamar lelaki menyebalkan.
Mungkin saja Henry dan Kris jadi menyebalkan karena ada hantu menyebalkan di kamar mereka. Yang merasuki jiwa setiap penghuni kamar sehingga mereka berubah menjadi menyebalkan.
Tangan Amber berhenti saat ia hendak membuka kenop pintu kamar Henry.
Sungguh ia lebih baik pergi ke asrama wanita sesuai keinginan Mom atau pergi ke salon kecantikan dan menghabiskan waktu seharian dengan Bora daripada berbagi kamar tidur, kamar mandi dan ruangan dengan Henry. Sampai sekarang saja Amber masih bertanya-tamya kenapa ia mau menghirup udara yang sama dengan Henry.
Ah, jika ini diteruskan maka Amber akan kembali tidak berhenti merutukki nasibnya yang jelek.
Kemarin saja setelah ia pulang dari kantor kepala sekolah, ia sudah mulai berbicara tanpa henti.
Mempertanyakan kenapa nasibnya begitu sial?
Key bahkan belum bangun sampai sekarang akibat Amber terus-menerus mengoceh semalaman.
Seperti ” Dosa apa yang kulakukan hingga Tuhan menghukumku seperti ini? “ ” Kenapa Kepala Sekolah begitu kejam kepadaku? ” ” Henry? Henry Lau yang menyebalkan itu? Aku lebih baik menjadi wanita daripada tidur sekamar dengannya. “ Dan masih banyak lagi.
Amber menarik nafasnya panjang lalu mengeluarkannya perlahan.
” Sudahlah Amber semuanya sudah terjadi. ” Bisik Amber kepada dirinya sendiri.
——————————–

” Nampaknya si pendek itu akan datang sebentar lagi. Aku akan keluar sekarang juga. ” Ucap Kris sambil menutup kopernya.
” Ah sial. Tidak bisakah kau tidak pergi Kris? Bagaimana jika kita melakukan demo? Ah tidak jika kita berdua saja Tuan Hwang akan semakin menghukumku dengan hukuman yang lebih berat lagi. ” Kris hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan sahabatnya ini.
Nampaknya sahabatnya itu sudah kehilangan akal sehatnya semenjak Tuan Hwang memutuskan dirinya menjadi teman satu kamar si pendek.
Dari kemarin ada saja ide gila dan tak masuk akal yang keluar dari mulut Henry yang terus berupaya agar Amber tidak masuk dan tinggal di kamarnya.

Kemarin Henry mengusulkan untuk membakar Asrama ini ( Dia terlalu banyak nonton film ) lalu Henry mengusulkan untuk menaruh kutu di kasur Amber ( Tidakkah dia tahu bahwa kutu itu binatang melompat? ) kemudian Henry berkata bagaimana jika dia mengatakan pada Tuan Hwang bahwa sebenarnya dia gay dan menyukai Kris ( Henry pasti sudah mulai kehilangan akal sehatnya ) dan berbagai macam ide gila lainnya yang pasti tidak akan mau kau dengar.
” Aku pergi. ” Kris mulai menarik kopernya namun tak lama Henry melompat dari kasurnya dan memeluk tubuh Kris yang tinggi.
” Kajima. Dont Go Kris. Aku mencintaimu. Aku tidak bisa hidup tanpamu. ” Ucap Henry seperti dalam adegan drama-drama murahan.
Satu detik, Sepuluh detik, Tiga pulah detik, Satu menit.
Hening. Tidak ada jawaban maupun reaksi apapun dari Kris.
” Kris? ” Henry mendongakkan kepalanya. Melihat apa yang di lakukan lelaki tinggi berambut hitam ke coklatan itu lakukan.
Sebuah death-glare diberikan kepada Kris untuk Henry. Membuat Henry menjadi sedikit awkward.
” Kau pasti sudah gila. ” Adalah satu-satunya kata yang keluar dari mulut Kris sebelum dia melangkah pergi meninggalkan Henry.

” Hey Kris. ” Perkataan kembali membuat Kris menghentikkan langkahnya.
” Aku tidak tahu kenapa ini terbersit di kepalaku. Sebenarnya aku bisa saja mengatakan ini di lain hari. Tapi, aku ingin mengatakannya sekarang. ”
” Dia masih di Amerika. ” Kris langsung membalikkan kepalanya. Menghadap Henry. Saat itulah mata Kris dan Henry bertemu.
Tatapan mata Henry membuat Kris tersentak kaget. Sebuah tatapan yang sudah lama tak Henry berikan kepada Kris.
Tatapan mata yang membuat Kris ragu apakah dia disini adalah dia atau-
” Wh-Who? ” Kris menelan ludahnya sendiri.
Ia tidak tahu, hatinya tidak siap jika benar dia itu adalah dia yang Kris pikirkan.
” Tiffany. ”
——————————–

” Iya Yoon Bora aku sedang bersiap-siap menuju ke sana. Kenapa kau berisik sekali sih? Iya aku tahu. Ya!! Jika kau membuatku kembali memakai pakaian wanita yang menjijikkan itu, akan kupastikan besok wajahmu hanya tinggal kenangan. Persetan dengan cara menjadi wanita yang baik dan benar! Aku sudah memiliki minggu yang melelahkan, tolong jangan kau buat akhir pekanku menjadi seperti di neraka.
Jika kau mengadu pada Mom maka aku memutuskan untuk tidak pulang dan menghabiskan akhir pekanku di asrama. Get it? ” Amber meletakkan telponnya.
Kenapa sih perempuan itu senang sekali dengan kegiatan berbicara? Apa dia tidak haus? Atau kehabisan kata-kata begitu? Selalu saja ada kalimat yang bisa gadis itu ucapkan.

Tiba-tiba saja insting Amber menyuruhnya untuk waspada.
Seketika ia yang sedari tadi hanya memakai handuk ( karena susahnya proses memakai segala macam atribut untuk menutupi payudaranya yang sedang dalam masa pertumbuhan ) membuat Amber langsung mempercepat gerakannya dan segera melindungi tubuhnya dengan kaos berwarna hijau yang di lapisi vest berwarna krem dan celana pendek berwarna senada.
Amber langsung merapihkan peralatan mandinya dengan kuping yang berjaga-jaga.
Ia mendengarkan setiap detil suara yang ada.
Memastikan bahwa tidak ada siapapun di dalam kamarnya.
Mungkinkah Henry yang masuk?
Gawat. Jika Henry maka mungkin saja dia-
” Brak. ” Amber membuka pintu kamar mandi dengan kasar dan segera melihat ke arah kasur Henry namun hasilnya nihil.
Huft. Amber membuang nafasnya dengan lega.
Mungkin Amber hanya terlalu paranoid.
Semenjak menjadi wanita Amber merasa ia juga semakin lama semakin seperti wanita.
Contohnya barusan.
Lalu ia merasa ia jauh lebih bawel di bandingkan sebelumnya.
Ah nampaknya ia benar-benar telah menjadi seorang wanita.
Langkah Amber terhenti saat ia melihat ke arah pintu masuk.
Mungkin saja, ya mungkin saja. Hanya untuk berjaga-jaga.
Amber melangkah dengan cepat ke arah pintu masuk lalu membukanya dengan tidak sabaran.
Dan tidak ada siapa-siapa.
” Kau terlalu berlebihan Amber. ” Katanya kepada dirinya sendiri.
——————————–

” Kau terlalu berlebihan Amber. ”
Tepat di ruangan depan tempat Amber berdiri.
Di kamar Key dan Kris ( kini mereka satu kamar ) seorang pria berambut cepak berwarna hitam ke coklatan. Sedang mengatur nafanya.
Wajah putihnya terlihat semakin memucat.
Nafasnya naik turun.
Matanya terlihat shock. Seperti habis melihat sesuatu yang menghebohkan.

Insting Amber tidak salah. Karena saat ini Kris…
” Jadi dia wanita? ” Ucap Kris dengan nada bergetar.
-TBC-

haiiii yeorobun so sorry karena lama banget gak update u,u butuh wangsit buat beberapa bagian di ff ini

maaf kalo agak berantakan semoga kalian semua suka *deep bow*

kritik dan saran selalu aku terima. jangan lupa tinggalin jejak ya readersku.

semoga sehabis post ff ini author bisa kembali aktif

see you ^^

Iklan

7 thoughts on “Part of Me is… Part 2

  1. Keren keren!
    Cepatan lanjut min, ini uda bulan juni loh, kenapa belum diupdate? Wkwkkww
    Semangat min!!

    Btw, kayak’a kebetulan banget ya, gua jg lg nulis fanfic trus castnya hampir sama semua, cuma kurang key aja sih.
    WKkwkwkw

    Lanjut min! Jiayou!!

  2. shyndikrisber

    akhirnya update juga si authorssi setelah sekian lama tak update #cieee.
    ga banyak komen dah, pokok e keren buanget ff nya!
    next nya as son as possible ea :*

  3. lita

    Annyeong.. saya reader baru 🙂
    Salam kenal~
    Cepet dilanjut yah.. ceritanya seru
    gampang dipahami, ga ribet
    Ditunggu next part nya 😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s