Tinkerbell’s Diary

Standar

tinkerbells-diary_soyeon_ai_melurmutia.jpg

Tinkerbell’s Diary.
Main Cast:
Kim Namjoo
Kim Jongdae

poster: melurmutia@cafeposterart.wordpress.com
——————————–


Januari 2002
Hai Tinkerbell, maukah kau ikut denganku? Menjelajahi dunia bersama -Peterpan-

Ini minggu pertama di bulan Januari. Tahun baru sudah lewat. Hihihi, kau tahu apa yang menyenangkan diary? Aku bertemu dengan Peterpanku! Bukan, bukan Peterpan dalam dongeng, dia Peterpan dalam dunia nyata. Hihihi.
Dia mengajakku untuk berteman, bukankah itu mengasyikkan? Aku punya seorang teman yeay!
Ah sebenarnya masih banyak yang ingin kutulis namun aku harus pergi karena dia sudah menjemputku. Kami akan bermain di taman sore ini.
Aku akan menceritakan lebih banyak lagi lain kali.
Ps: Dia memanggilku dengan Tinkerbell karena katanya aku sangatlah kecil. Seperti Tinkerbell.

” Umma, umma kau dimana? ” Namjoo kecil hanya bisa menangis mencari Ibunya. Ia kehilangan ibunya saat sedang berbelanja di pasar.
” Hei mengapa kau menangis? Apa kau mencari Ibumu? ” Seorang bocah lelaki menghampiri Namjoo yang masih menangis kebingungan.
Namjoo tidak menggubris pertanyaan bocah itu, melainkan ia hanya terus menangis dan menangis.
” Cup cup cup. Gadis cantik jangan menangis terus. ” Bocah itu mengelus pelan rambut Namjoo dengan tangan kecilnya.
Perlahan-lahan Namjoo berhenti menangis. Ia mengangkat kepalanya. Menatap lelaki yang sedang mengelus kepalanya yang ia tidak kenal siapa lelaki kecil ini.
” Nah lihat kau terlihat cantik saat kau tidak menangis. ” Bocah itu tersenyum.
Namjoo hanya terdiam, bingung.” Karena kau sudah tidak menangis lagi. Ini hadiah untukmu. Mama bilang, permen adalah senjata terampuh saat kau menangis. ” Bocah lelaki itu menjulurkan permen lollipop dari kantung celananya untuk Namjoo.
Dengan ragu Namjoo menerima permen pemberian bocah kecil itu.
” Ayo, sekarang kita cari mamamu, aku yakin mamamu juga sedang mencarimu. ” Lelaki kecil itu menarik tangan Namjoo dengan pelan. Mengajaknya pergi mengitari pasar.
” Berteriaklah memanggil mamamu. Itu akan lebih memudahkan kita. ” Namjoo hanya mengangguk dan mengikuti saran bocah yang mengenggam tangannya dengan lembut ini.
Setelah cukup lama berteriak memanggil Ibunya. Akhirnya Namjoo bertemu kembali dengan Ibunya.
” Terimakasih, sudah membantuku. Aku berhutang banyak padamu. ” Namjoo mengucapkan terimakasih.
” Tidak masalah. Senang bertemu denganmu. Kim Jong Dae. ” Bocah yang rupanya bernama Jong Dae itu mengulurkan tangannya.
Namjoo tersenyum lebar, menyambut uluran tangan Jongdae.
” Kim Namjoo. ”
——————————–
Tink, ayo pergi ke Neverland! Tempat dimana kita tidak akan pernah menjadi tua. Kita akan muda selamanya.
Kita bisa bermain, tertawa tanpa perlu khawatir tentang menjadi tua.
Kau harus ikut bersamaku Tink, ini tidak akan seru tanpamu. -Peterpan-

28 Januari 2002
Kau tahu diary? Aku memasuki Sekolah Dasar yang sama dengan Jongdae oppa. Ups, aku lupa dia sangat benci jika aku memanggilnya dengan oppa. Bukankah itu aneh? Setiap pria ingin di panggil oppa, tapi dia tidak.Dia akan menjadi badmood jika kau memanggilnya dengan oppa. Dan aku memanggilnya oppa sekarang. Hihihi. Oh aku harus pergi sekarang. Dia sudah datang. Aku akan menjelaskan lain kali, mengapa dia tidak mau di panggil oppa.

” Oppa, Jongdae oppa tunggu. ” Namjoo berlari mengejar Jongdae yang sudah berjalan lebih dahulu, jauh di depannya.
” Ya Kim Namjoo, bukankah sudah kubilang padamu untuk tidak memanggilku oppa? ” Jongdae berbalik. Sedikit membentak Namjoo.
” Kenapa? Bukankah kau lebih tua 1 tahun dariku? Umma bilang jika bertemu dengan lelaki lebih tua aku harus memanggilnya oppa. ”
” Buat aku sebagai pengecualian. ”
” Kenapa? Bukankah setiap pria ingin di panggil oppa? Kenapa sih kau sangat benci di panggil oppa? ”
” Karena oppa berarti lelaki lebih tua, dan aku benci menjadi tua. Karena peterpan takkan pernah menua. ” Jawaban dari Jongdae langsung membuat Namjoo menjadi speechless.
Apakah Jongdae ini benar-benar berpikiran bahwa manusia seperti Peterpan itu benar-benar ada?
” Hei Tinkerbell, kenapa kau bengong saja? Tidak jadi main? ” Panggilan Jongdae menyadarkan Namjoo dari lamunannya.
” Kenapa kau memanggilku tinkerbell? Aku ingin wendy. ” Protes Namjoo tak terima Jongdae terus-terusan memanggilnya Tinkerbell.
” Karena kau kecil seperti Tinkerbell. Dan lagi Tinkerbell adalah orang yang selalu berada di sisi Peterpan. Kau akan selalu berada di sisiku kan? ” Lalu Namjoo tersenyum lebar mendengar jawaban Jongdae. Ia dia adalah Tinkerbell untuk Jongdae sang Peterpan. Ia akan selalu ada di sisi Jongdae.
——————————–

14 Februari 2002
Hari ini adalah hari valentine.Apakah kau tahu apa itu hari valentine diary? Aku juga tidak tahu pada awalnya. Namun sekarang aku tahu, hari valentine adalah hari dimana seorang wanita memberikan cokelat kepada lelaki yang ia ingin berikan. Begitu kata Jongdae. Dan kau tahu diary? Aku dan Jongdae membuat perjanjian. Dimana di setiap hari valentine aku akan memberikannya cokelat dan Jongdae akan membalasnya pada hari white day.

” Ya Kim Jongdae apa kau tahu apa itu hari valentine? ” Namjoo bertanya pada Jongdae yang sedang terduduk di perkarangan rumahnya.
” Aku tahu, kenapa? ”
” Apa sih hari valentine itu? Kenapa toko-toko banyak yang merayakannya? ”
” Hari valentine itu adalah hari dimana seorang perempuan memberikan cokelat kepada lelaki yang menurutnya pantas untuk ia dapatkan. ”
” Pantas untuk dapat? Contohnya? ”
” Sepertiku. ” Jawab Jongdae kecil dengan percaya diri. Membuat Namjoo sedikit mendesis.
” Katakanlah dengan serius. ”
” Memangnya kau tidak akan memberikan cokelat padaku? ”
” Kenapa aku harus memberikanmu? Lagipula bukankah dimana-mana seharusnya pria, kenapa ini malah wanita? ”
” Hari untuk pria ada lagi. Yaitu white day, tanggal 14 maret. ”
Namjoo mengangguk kecil mendengar penjelasan Jongdae.
” Hei begini saja, kau memberikanku cokelat, dan aku akan membalasnya pada hari white day, bagaimana? ”
” Ide bagus. Setuju. ” Namjoo berteriak kegirangan.
——————————–
Hei Tinkerbell, bukankah Neverlad ini sangatlah indah? -Peterpan-

14 April 2002
Huh menyebalkan, menyebalkan. Kim Jongdae brengsek!!!!
Dia tiba-tiba saja menjauhiku begitu saja diary!!! Aku tidak tahu kenapa tapi yang pasti sudah seminggu lebih dia tidak pernah mengajakku bermain bersama. Saat aku menghampirinya di sekolah dia hanya akan berlalu seolah aku ini tidak ada.
Dasar menyebalkan!
Padahal aku kan tidak salah apa-apa. Kenapa dia seperti ini padaku?
Biarkan saja, aku tidak akan mengundangnya ke pesta ulang tahunku.
Ps: besok adalah hari ulang tahunku.

Namjoo hanya duduk terdiam sambil melipatkan kedua tangannya di dada dan mengerucutkan bibirnya.
Dia benar-benar tidak mengundang Jongdae ke pesta ulang tahunnya. Dan yang membuatnya kesal saat ini adalah fakta bahwa Jongdae bahkan tidak mengucapkan selamat ulang tahun padanya. Walaupun mereka tadi pagi berpapasan di koridor sekolah.
Namjoo bersumpah ia akan membenci Kim Jong Dae seumur hidupnya dan tidak akan memaafkannya.
” Sayang kenapa kau cemberut begitu sih? Ini kan pesta ulang tahunmu. ” Mama Namjoo menghampiri anaknya yang terlihat sebal setengah mati itu.
” Namjoo sebal. Kim Jong Dae jahat umma, dia tidak perduli lagi dengan Namjoo. ” Rengek Namjoo sambil menangis. Membuat orang-orang yang hadir di pesta ulang tahunnya menatap heran ke arah Namjoo yang sudah menangis dengan kencangnya ini.
” Mungkin Jong Dae sedang sibuk atau dia lupa sayang. ” Sang mama mencoba untuk menenangkan anaknya.
” Tapi ini kan hari spesial Namjoo, kenapa dia bisa lupa? “” Itu memang sifat manusia sayang. ” Isak tangis Namjoo malah semakin menjadi mendengar perkataan ummanya. Membuat ummanya harus mencari akal bagaimana caranya mengakhiri pesta ulang tahun yang sudah kacau ini akibat sang pemilik pesta malah menangis dengan kerasnya.

Namjoo masih terduduk di tempatnya. Tidak beranjak sedikitpun dari tempatnya sebelum sebuah pesawat mainan yang terbuat dari kertas berwarna pink mendarat tepat di kepala Namjoo.
” Apa ini? ” Namjoo menyelidiki pesawat kertas itu. Memperhatikannya dengan seksama.
Namjoo menarik pesawat kertas itu hingga berubah dari wujudnya menjadi kertas biasa lagi.
‘ Hai Tinkerbell, ikutilah jejak anak panah ini. Maka ini akan membawamu ke Neverland! ‘ Namjoo terdiam sejenak setelah melihat isi pesan yang tertulis di kertas.
Jongdae. Pikirnya.
Namjoo melirik ke arah pohon besar, dimana lambang anak panah itu menempel.
Namjoo berlari kecil mengikuti setiap anak panah itu menuntunnya ke sebuah tempat bernama Neverland.

Namjoo hanya berdiri terdiam. Mulutnya terbuka lebar. Matanya hampir mengeluarkan airmata.
Dia tak percaya dengan apa yang dia lihat.
Sebuah tempat terbuang di tempat tinggalnya yang di penuhi oleh ilalang.
Memang itu hanyalah tempat yang tidak satu persenpun spesial.
Tapi bagi Kim Namjoo tempat ini adalah Neverland.
” Bagaimana kau suka? ” Sebuah suara yang sudah tidak perlu Namjoo pikir lagi itu siapa membuat Namjoo langsung berlari kencang memeluk pria itu.
” Jongdae-ya. ” Kata Namjoo terisak.
” Nam-namjoo. ” Kata Jongdae terbata akibat pelukan tiba-tiba dari Namjoo.
” Maaf sudah mengacuhkanmu belakangan ini. Itu karena aku sedang mempersiapkan ini semua untukmu. Kupikir mencari Neverland adalah hal yang gampang. Namun ternyata tidak. Kuharap kau suka dengan Neverland kita. ”
” Suka, aku suka Jongdae-ya. ” Jongdae tersenyum simpul saat Namjoo mengucapkan kata ia menyukai Neverland pemberiannya. Usahanya tak sia-sia.
” Kau berkeliling untuk mencari tempat ini, untukku? ” Namjoo melepaskan pelukannya.
” Sedikit melelahkan sih, tapi tidak apa-apa. ”
” Terimakasih Jongdae-ya. ” Namjoo memeluk Jongdae sekali lagi.
” Aku hampir saja ingin membencimu. ” Jongdae langsung melepas paksa Namjoo yang menempel di tubuhnya.
” Apa? Kau ingin membenciku? ” Tanya Jongdae tak percaya dengan apa yang ia dengar.
” Habis kau mengacuhkanku begitu saja. ”
” Ya Kim Namjoo. Kau bahkan tidak mengundangku ke pesta ulangtahunmu. Seharusnya aku yang membencimu bukan kau. ”
” Tapi kau mengacuhkanku duluan. ” Ucap Namjoo tak mau kalah.
” Tapi kan kau tidak perlu sampai sejauh itu? Mungkin saja aku hanya sedang bete. ”
” Mana kutahu. Sudahlah, kita sudah berada di sini, bukankah seharusnya kita menikmatinya? ”
” Tidak mau, aku marah padamu. ” Jongdae membuang mukanya, berpura-pura marah.
” Ya Kim Jongdae!!. ”

” Ah disini benar-benar indah, benar-benar seperti berada di dunia lain. ” Namjoo membaringkan tubuhnya di rerumputan. Tak perduli akan bajunya yang mungkin kotor. Atau mungkin akan ada binatang. Dirinya terlalu lelah sehabis bermain dengan Jongdae hingga tak sanggup memikirkan itu.
” Jongdae. ” Namjoo yang baru sadar bahwa kini Jongdae  tidak ada di sampingnya kini mulai meneriakkan namanya.
” Jongdae. ”
‘ Srek ‘ Suara langkah kaki dari arah timur membuat Namjoo menolehkan kepalanya ke arah suara semak itu berbunyi.
” Saengil chukkahamnida, saengil chukkahamnida, saranghaneun Kim Namjoo, saengil chukkahamnida. ” Wajah was-was Namjoo berubah menjadi senyum kebahagiaan saat ia melihat Jongdae datang dengan membawa sepiring kecil kue dengan satu lilin di atasnya sambil menyanyikan lagu ulang tahun untuknya.
” Aku tidak punya uang yang cukup untuk membeli kue jadi aku hanya bisa memberimu sedikit kue ini. ” Jongdae menyodorkan piring kecil berisi kue kepada Namjoo. Membuat Namjoo tertawa kecil.
” Sebelum kau meniup lilinya. ” Namjoo menatap Jongdae bingung namun kembali tersenyum saat Jongdae memasangkannya sebuah mahkota yang terbuat dari bunga-bunga yang di rangkai.
” Selamat ulang tahun Tinkerbell-ku. ”

15 April 2002
Terimakasih Peterpan karena telah membawaku ke Neverland. Karena telah membuat hari dimana aku lahir menjadi spesial.
Aku tidak bisa membencimu, karena kau adalah satu-satunya untukku.
——————————–
15 September 2002
Huhu, apa yang harus kulakukan diary? Tinggal beberapa hari lagi Jongdae akan berulangtahun. Apa yang harus kulakukan? Aku tidak tahu harus memberinya apa. Dia telah memberikan Neverland untuk hadiah ulangtahunku. Dan itu sangat istimewa. Dan aku ingin membalasnya dengan sesuatu yang lebih istimewa lagi.
Ah entahlah.


Langkah Jongdae terhenti. Ia berhenti sejenak seraya mengatur nafasnya yang naik-turun akibat berlarian ke sana kemari. Hanya untuk mencari Namjoo.
Jongdae mendapati bahwa Namjoo tak hadir di perayaan ulangtahunnya. Jadi setelah pesta berakhir Jongdae berlari ke rumah Namjoo, bermaksud bertanya alasan Namjoo mengapa ia tak hadir di pestanya.
Namun umma Namjoo berkata bahwa Namjoo tadi bilang ia akan pergi ke pesta ulang tahun Jongdae.
Itu aneh, jika Namjoo berkata ia akan pergi ke pesta ulang tahunnya mengapa tak ada batang hidung Namjoo sedari tadi?

Langit sudah hampir senja. Jongdae melangkahkan kakinya perlahan, mendekati Namjoo yang duduk dengan wajah terbenam di kakinya.
Insting Jongdae benar, Namjoo tidak lain berada di Neverland mereka.
” Ya! Mengapa kau berada di sini? Kenapa kau tidak datang ke pesta ulang tahunku? Kau berbohong pada ibumu, bilang bahwa kau akan datang ke pestaku. Kau bahkan sudah memakai baju cantik. Lalu kenapa kau tidak datang? ” Jongdae mengomel panjang lebar begitu ia berdiri tepat di hadapan Namjoo.
Omelan Jongdae malah membuat Namjoo menangis kencang. Membuat Jongdae kebingungan, mengapa Namjoo malah menangis? Apakah tadi Jongdae terlalu kasar pada dirinya?
” Ya Kim Namjoo ada apa? Kenapa kau malah menangis. Namjoo-ya. ” Jongdae menepuk-nepuk pelan lengan Namjoo, menanyakan alasan Namjoo menangis.
” Aku takut. ” Jawab Namjoo sambil tetap menangis.
” Takut? Takut apa? Apa yang kau takutkan? ”
” Aku tidak punya apa-apa untuk kuberikan padamu sebagai hadiah ulang tahunmu. Aku sudah berfikir keras namun tak ada yang istimewa. Kau memberikanku Neverland, dan aku tidak bisa memberikanmu apa-apa. Aku tadi datang sebentar ke rumahmu, aku melihat banyak anak-anak datang membawakan berbagai macam hadiah. Aku malu, aku takut kau akan membenciku karena tak bisa memberimu apa-apa Jongdae-ya. ” Namjoo mengutarakan alasan mengapa ia tak datang ke pesta ulang tahun Jongdae, membuat Jongdae terdiam di buatnya.
” Apa ini? ” Mata Jongdae menangkap sebuah kertas yang sudah diremas-remas menjadi sebuah bulatan tak beraturan, berada di dekat kaki Namjoo.
” Jangan. ” Dengan cepat Namjoo langsung merebut kertas itu dari tangan Jongdae.
” Kenapa? Apa itu? ” Jongdae berusaha untuk mengambil kembali kertas itu dari tangan Namjoo.
” Ini bukan apa-apa. ” Namjoo menyembunyikan kertas itu di balik badannya.
” Jika bukan apa-apa mengapa kau menyembunyikannya? Pasti ada sesuatu. ” Jongdae terus berusaha mengambil kertas itu yang berujung pada perebutan kertas satu sama lain.
Yang satu ingin melihat, yang satu ingin membuang.
Karena Jongdae adalah laki-laki otomatis ia bisa mendapatkan kertas karena tenaganya lebih kuat dari Namjoo.
” Haha dapat kau. ” Kata Jongdae bangga saat ia berhasil mendapatkan kertas yang sedari tadi mereka perebutkan.
Namjoo hanya membuang nafasnya saat Jongdae membuka kertas tersebut.
” Kupon Permintaan? ” Jongdae melihat ke arah Namjoo dengan pandangan bingung. Seolah bertanya apa-maksudnya?” Tadinya aku akan memberikan itu sebagai hadiah ulang tahunmu. Kau bisa meminta satu hal dariku, apa saja dan aku akan mengabulkannya. Seperti jin dalam film. Tapi setelah kupikir ulang itu terlalu norak makanya aku memutuskan untuk tidak memberikannya. ” Namjoo menundukkan kepalanya. Malu akan pemikirannya sendiri tentang hadiah untuk Jongdae yang menurutnya sangat norak.
” Namjoo-ya. ” Suara Jongdae sedikit bergetar. Ia langsung memeluk badan Namjoo yang kecil.
” Terimakasih, hadiah ini sangatlah indah. Aku suka Namjoo-ya. ” Ucap Jongdae tepat di kuping Namjoo.
Membuat Namjoo sedikit keheranan di buatnya. Jongdae menyukai hadiah noraknya?
” Kau suka itu? ” Tanya Namjoo tak percaya. Jongdae menganggukkan kepalanya mantap.
” Tentu saja, hadiah ini sangat bernilai, aku bisa meminta apa saja sesukaku. ” Jongdae tersenyum manis. Membuat Namjoo juga ikut tersenyum di buatnya.
” Jadi apa yang akan kau minta? ”
Jongdae menutup kedua matanya, berpikir. Membuat Namjoo sedikit was-was jikalau Jongdae memintanya untuk melakukan sesuatu yang aneh.
” Ah. ” Seru Jongdae.
” Permintaanku adalah, berjanjilah kau akan selalu bersamaku, tak akan pernah meninggalkanku. Kita akan menghabiskan waktu bersama hingga ulang tahun kita yang ke-1000. Itu permintaanku. ” Jongdae menyengir.
” Itu permintaanmu? Memintaku untuk terus selalu bersamamu? Kau tidak ingin meminta yang lain? ” Namjoo sedikit meragukan permintaan Jongdae. Mana ada orang ketika di beri hak untuk meminta apa saja malah meminta sesuatu yang gampang.
Jongdae menggelengkan kepalanya, ia yakin akan ucapannya.
” Itu terlalu mudah Jongdae-ya. Aku pasti akan terus bersamamu, kita kan teman. ”
” Kata siapa? Siapa yang bilang itu gampang? Menjaga suatu persahabatan itu sulit Namjoo-ya. Akan ada banyak rintangan. Perdebatan, teman baru dan hal-hal kecil lain mampu merusaknya. Tidak ada garansi yang mampu menjamin persahabatan kita mampu bertahan lama. Kita akan bertumbuh, mungkin saja dalam masa pertumbuhan itu nanti kita mulai merasa bosan terhadap satu sama lain. Kita masih kecil Namjoo-ya. Jalan yang akan kita lalui akan sangat panjang, kita mungkin akan bertemu banyak masalah. Seperti perbedaan maupun kesalahpahaman. Tetapi aku memintamu, bahkan jika akan datang badai yang menghantam persahabatan kita nanti, aku minta padamu untuk selalu berada bersamaku, berpegang tangan erat. Bahkan jika nanti kita tumbuh dewasa dan banyak hal berubah. Aku mau kau tetap di sampingku. Karena kau adalah satu dari alasanku untuk menjalani hidupku. Aku tanpamu tidak akan lengkap Namjoo-ya. ” Tanpa sadar airmata Namjoo menetes mendengar perkataan Jongdae yang memintanya untuk terus bersama.
” Aku pasti akan mengabulkan keinginanmu. ” Ucap Namjoo sambil meneteskan airmata yang sangat deras.
Jongdae menarik Namjoo ke dalam pelukannya.
Namjoo tidak bisa membayangkan bila suatu hari nanti tidak akan ada lagi Jongdae di dalam hidupnya. Tidak akan ada lagi Jongdae di setiap hari yang ia jalani.
Bahkan membayangkannya saja Namjoo tidak mau.” Lain kali, tidak usah khawatir jika kau tidak punya kado untuk kau berikan padaku. Kehadiranmu dalam hidupku saja merupakan sebuah kado terindah dalam hidupku. Bahkan semua mainan di muka bumi ini tidak dapat sebanding denganmu. Jadi jangan merasa takut ataupun malu. Oke? ” Namjoo mengangguk kecil dalam pelukan Jongdae.
Saat ini Namjoo menyadari betap beruntungnya Namjoo memiliki Jongdae di sisinya. Sebagai teman.

Dear Peterpan, aku tahu sejak pertama kau mengajakku pergi ke Neverland bersama kau adalah orang yang spesial. Tentu saja karena sekarang aku yakin kau adalah bagian terpenting dalam hidupku. Ayo jelajahi dunia bersama!

Ps: Terimakasih telah menjadikanku bagian dari dirimu. -Tinkerbell-
——————————–

Jongdae berjalan perlahan, kepalanya celingukan kesana kemari. Ia tidak melewatkan hal sekecil apapun.
Kakinya terus berjalan menelusuri lorong sekolah yang panjang. Matanya mencari ke setiap sudut ruang kelas yang ada.
Mencari si Kim Namjoo yang seharusnya sudah sedari tadi berdiri menunggu Jongdae di depan kelas Jongdae. Karena memang biasanya Namjoo akan selalu berdiri di depan kelas Jongdae ketika pulang sekolah agar mereka bisa pulang sekolah bersama-sama.
Namun setelah kurang lebih 15 menit menunggu Namjoo tak kunjung menunjukkan batang hidungnya juga.
Jadi Jongdae memutuskan untuk pergi mencari Namjoo.
Ketemu. Akhirnya mata Jongdae berhasil menemukan sosok wanita yang sedang menenggelamkan kepalanya ke atas meja itu.
” Ya Kim Namjoo! ” Jongdae memanggil nama Namjoo. Namun Namjoo sama sekali tidak merespon. Namjoo hanya tetap terdiam.
Bingung dengan sikap Namjoo yang tidak biasanya,Akhirnya Jongdae memutuskan untuk menghampiri sahabatnya itu.
” Namjoo-ya. ” Tangan Jongdae mengguncang pelan tubuh Namjoo yang tak bergerak sedikitpun sedari tadi.
” HHHUUAAAA ” Tangis Namjoo pecah saat ia mengangkat kepalanya. Membuat Jongdae harus menutup telinganya akibat tangisan Namjoo yang begitu kencang.
Beruntung sekolah sudah bubar saat ini. Jadi tidak akan ada yang ( tersiksa ) mendengar isak tangis Namjoo.
” Ya Namjoo-ya ada apa? ” Sebagai sahabat tentu saja Jongdae harus menanyakan apa yang terjadi kepada Namjoo sehingga ia bisa menangis dengan begitu kencangnya saat ini.
” Teman-temanku meledekku. ” Ujar Namjoo terisak. Jongdae tercengang, tak percaya setelah mendengar penjelesan Namjoo tentang hal apa yang membuat ia menangis.
” Meledek? Kau menangis karena mereka meledek dirimu? ” Jongdae memastikan sekali lagi apakah ia salah mendengar atau tidak. Namun Namjoo mengangguk yang berarti itu adalah benar.
Jongdae tak percaya Namjoo bisa menangis karena hal semacam itu. Pasalnya Namjoo bukanlah gadis yang cengeng.
” Mereka bilang bahwa nanti saat kau di SMA kau akan melupakanku karena akan ada banyak gadis cantik. Dan aku juga akan melupakanmu karena terpikat lelaki tampan. ” Bukannya kaget atau bersimpati, Jongdae malah tertawa dengan terbahak-bahak mendengar perkataan Namjoo.
” Ya, mengapa kau tertawa Jongdae-ya? ” Namjoo malah bingung melihat Jongdae yang tertawa terbahak-bahak.
” Tidak apa-apa. Hei, kau ingin bertanding lari denganku sampai ke Neverland? ” Tantang Jongdae.
” Tidak mau, aku bukan anak sekolah dasar lagi. Aku sudah SMP saat ini. ” Namjoo menolak tantangan yang di berikan Jongdae.
Yup, lomba lari adalah hal yang Jongdae dan Namjoo ciptakan untuk membuat mereka kembali ceria setelah mengalami masalah atau hari yang buruk.
Yang mereka namakan Jalan Mencari Kebahagiaan.
Dimana yang menang  bisa memerintahkan apa saja kepada yang kalah. Apa saja.
Namun mereka sudah jarang memainkan itu lagi semenjak mereka memasuki Sekolah Menengah.
Tentu saja karena mereka sudah jarang atau bahkan tidak pernah menangis sekarang.
” Bilang saja kau takut. ” Cibir Jongdae yang membuat Namjoo memakai tas ranselnya.
” Siapa yang takut? Kau benar-benar akan kalah dariku Kim Jongdae. ” Lalu Namjoo sudah berlari cepat meninggalkan Jongdae yang masih meneriakan namanya dan kata curang.

Kedua remaja itu sama-sama tergeletak di tanah mereka. Seperti biasa, tak perduli jika seragam mereka kotor atau mungkin akan ada binatang.
Mereka sibuk mengatur pernafasan mereka. Keringat sudah mengalir deras di sekujur tubuh mereka.
” Hah, aku lupa jika jarak Neverland ke sekolah kita sudah terlalu jauh. ” Ucap Namjoo sambil mengatur nafasnya yang masih naik-turun.
” Jika terus seperti ini. Aku rasa aku bisa ikut Lomba Olimpiade cabang Lari. ” Kata Jongdae.
” Katakan, apa yang mau kau minta. ” Namjoo bertanya apa yang Jongdae inginkan karena Jongdae sudah memenangkan lomba lari kecil-kecilan mereka.
” Aku ingin kau melupakan ingatanmu. ”
” MWO?! ” Pekik Namjoo, tak percaya dengan ucapan Namjoo. Melupakan ingatannya? Apa Jongdae sudah tidak waras setelah berlari cukup jauh?
” Maksudku, lupakan ingatanmu atas perkataan temanmu yang tak masuk akal itu. Aku tidak akan melupakanmu. Kita kan sudah berjanji akan terus bersama hingga ulang tahun kita yang Ke-1000. ”
” Kau benar-benar tidak akan melupakanku, bahkan jika ada gadis yang lebih cantik mendekatimu? ”
” Bahkan jika ada gadis yang jauh lebih cantik, lebih feminim, lebih anggun, lebih segalanya darimu. Aku tidak akan melupakanmu. ” Namjoo tersenyum mendengar ucapan penuh keyakinan dari Jongdae.
” Kupegang kata-katamu. ”
” Kau juga. Jangan hanya aku saja yang berjanji. Berjanjilah bahwa kau tidak akan pernah melupakanku. ” Jongdae menatap Namjoo. Menyuruhnya untuk berjanji juga.
” Baiklah aku Kim Namjoo, Tinkerbell cantik berjanji tidak akan pernah melupakan Kim Jongdae, Peterpan. Bahkan jika seorang lelaki tampan memintaku. ” Namjoo mengangkat tangan kanannya. Melakukan persumpahan seperti di tivi-tivi.
” Tapi… Jika Jo In Sung yang memintaku aku akan memikirkannya kembali. ” Gumam Namjoo.
” Ya!!! ” Jongdae berteriak. Bangun dari tidurnya lalu menatap Namjoo tak percaya.
” Kenapa? Ini Jo In Sung. Memangnya jika Song Hye Kyo memintamu untuk melupakanku. Kau tidak akan mengabulkannya? ” Namjoo bertanya dengan tidak santai.
” Tentu saja. Kau lebih penting dari Song Hye Kyo. ” Namjoo meringis namun diam-diam dia tersenyum lebar.

19 Juni 2008.
Hari ini Jongdae kembali berkata bahwa ia tidak akan melupakanku. Bahkan jika ada gadis seperti Song Hye Kyo hadir dalam hidupnya.
Sejujurnya aku sedikit takut karena sebentar lagi ia akan lulus dan pergi ke SMA. Sedangkan aku harus menunggu 1 tahun lagi untuk bisa pergi menyusulnya. Tapi sekarang aku lega. Karena aku tahu ia pasti tidak akan melupakanku.
Dan kau diary akan menjadi saksi bahwa kami akan terus bersama sampai tahun ke-1000 kami :))

——————————–

” Namjoo-ya kau akan pergi ke SMA mana? ” Tanya Jongdae sambil merebahkan badannya memandang matahari yang akan segera terbenam di Neverland.
” Entahlah aku tidak tahu. ” Jawab Namjoo. Ia juga melakukan hal yang sama, menatap kepergian matahari di samping Jongdae.
” Pergilah ke sekolahku. ”
” Tidak mau. Aku bosan. ”
” Kenapa? Bukankah dengan itu kita akan terus bersama? ”
” Karena itu aku bosan selalu bersamamu. Aku ingin suasana baru. Bagaimana dengan luar kota? ”
” Jangan bercanda Namjoo-ya kau tidak akan pergi kemana-mana. ”
” Kenapa? ”
” Karena kau tidak akan pernah bisa lepas dariku. ” Yang langsung mendapat pukulan keras di perutnya oleh Namjoo.
” Dasar narsis. ”
” Tapi aku benar kan? ” Namjoo memutuskan untuk tidak menjawab pertanyaan terakhir Jongdae. Namun baik dirinya dan Jongdae sama-sama tahu bahwa mereka memang tidak bisa lepas dari satu sama lain.

Ikutlah denganku tempat dimana kita akan merajut mimpi, menghentikan waktu. Bersama kita akan selalu bahagia. Di tempat yang di sebut Neverland – Peterpan
——————————–

” Ah sial. ” Umpat Namjoo sambil memegangi perutnya di dalam kamar mandi sekolah.
Tangan kanannya yang terbebas menari di atas keyboard handphonenya dengan cepat.
Kirim.
‘ JONGDAE KAMAR MANDI HELP! ‘
-Flashback-

Suatu hari ketika Jongdae dan Namjoo masih duduk di Sekolah Dasar. Namjoo pernah mengurung dirinya di kamar mandi rumah Jongdae.
Ia hanya menangis dan menangis.
Bahkan meskipun Jongdae sudah mengetuk pintu kamar mandi berkali-kali bertanya apa yang terjadi Namjoo tidak pernah menjawab Jongdae. Ia hanya menangis seraya menggumamkan satu kalimat berulang-ulang.
” Aku akan mati Jongdae-ya. ”
” Ya Kim Namjoo!! Apa yang terjadi pada dirimu! Cepat keluar atau setidaknya izinkan aku masuk. ” Jongdae kecil panik. Ia tak tahu apa yang harus ia lakukan, ummanya sedang pergi keluar dan Namjoo sudah mengurung dirinya di kamar mandi dalam kurun waktu yang cukup lama.
Belum lagi Namjoo yang akan membencinya seumur hidup jika ia melangkahkan kakinya ke dalam kamar mandi.
Ia sungguh tidak tahu apa yang harus ia lakukan.
Ia benar-benar khawatir pasalnya Namjoo terus mengatakan bahwa ia akan mati. Bagaimana jika Namjoo benar-benar akan mati?
Beruntung Umma Jongdae baru saja pulang ke rumah.
” Umma. ” Jongdae langsung berteriak memanggil Ibunya.
” Jongdae-ya ada apa? ”
” Umma, Namjoo dari tadi tidak mau keluar kamar mandi. ” Jongdae menjelaskan. Di susul dengan suara nyaring tangisan Namjoo.
” Ia hanya menangis di dalam umma. Ia bilang ia akan mati. ” Tangisan Namjoo semakin pecah.
” Aku belum mau mati. ” Isak Namjoo dari dalam kamar mandi.
Umma Namjoo langsung membuka pintu kamar mandi ( setelah sebelumnya melarang Jongdae untuk ikut masuk )
” Namjooya, OMO ” Betapa kagetnya Ibu Jongdae saat melihat ada genangan darah di dalam kamar mandinya.” Tadinya perut Namjoo hanya sakit lalu Namjoo pergi ke kamar mandi tiba-tiba, tiba-tiba ada darah Tante. Namjoo akan mati. ” Namjoo kembali menangis.
Namun Ibu Jongdae hanya tersenyun sambil mengusap pelan kepala Namjoo.
” Kamu tidak akan mati sayang. Ini namanya datang bulan atau bahasa kedokterannya menstruasi. Ini adalah hal wajar bagi setiap perempuan di seluruh dunia. Mereka akan datang bulan setiap bulannya. Itu artinya kau telah beranjak dari anak perempuan menjadi seorang gadis, sayang. ” Jelas Ibu Jongdae sambil mengusap airmata Namjoo.
” Jadi Namjoo tidak akan mati? Ini bukan penyakit? ”
” Bukan sayang. Nah sekarang bersihkan dulu badanmu dan darahmu lalu Tante akan memberikan sesuatu. ” Lalu Ibu Jongdaepun keluar dari kamar mandi. Dan disambut dengan rentetan pertanyaan dari Jongdae.
Apakah Namjoo baik-baik saja? Apa dia akan mati? Apa yang terjadi padanya?
” Namjoo baik-baik saja sayang. Ia hanya sedang datang bulan. ”
” Ia didatangi oleh bulan? ” Ibu Jongdae tertawa mendengar kepolosan anaknya itu.
” Bukan sayang ini datang bulan atau menstruasi hal yang biasa yang terjadi pada gadis yang beranjak dewasa. ”
” Namjoo sudah dewasa? Tidak mungkin! Ia bahkan masih menangis saat aku mengotori barbie-nya. ” Celetuk Jongdae yang membuat Ibunya hanya bisa menggelengkan kepalanya.
-Flashback End-

” Dasar Kim Namjoo gila. ” Umpat Jongdae pada Namjoo.
Bagaimana tidak? Namjoo meminta padanya untuk mengambil pembalut di ruang guru.
Apa Namjoo gila?
Jika Namjoo bukan sahabat baiknya, ia bersumpah akan memasukkan Namjoo ke dalam toilet lalu mem-flush-nya hingga ia menghilang ke tempat antah berantah.
Ini bukan pertama kalinya Jongdae harus melakukan hal gila untuk Namjoo.
Ada saat ketika mereka pergi jalan-jalan bersama ke mall dan tiba-tiba saja Namjoo datang bulan.
Jongdae harus menahan malu untuk membeli pembalut dan harus menahan malu lagi karena ia harus memasukki toilet perempuan di mall!!!
Kim Namjoo itu benar-benar keterlaluan.
Belum lagi ia akan berubah menjadi sangat moody ketika datang bulan sehingga Jongdae harus bersabar dan menuruti semua perkataan Namjoo jika ingin persahabat mereka selamat.
Kim Jongdae menghela nafasnya berat ketika ia sudah sampai di ruang guru.
Ia mengutuk nama Namjoo ratusan kali dalam hati lalu bersumpah akan meminta Namjoo mentraktirnya pizza.

” Ya Kim Namjoo, kenapa kau harus meminta tolong diriku? Memangnya kau tidak punya teman perempuan yang bisa kau mintai tolong hah? ” Protes Jongdae di depan pintu kamar mandi tempat Namjoo berada.
” Maaf. Hehe. Tentu saja aku punya. Hanya saja aku langsung teringat pada dirimu. Siapa suruh kita terlalu banyak menghabiskan waktu bersama. ”
” Kau harus mentraktirku pizza atas semua rasa malu yang harus kutanggung hari ini. Mau di kemanakan reputasiku? ” Kata Jongdae sedikit berlebihan.
” Cih, seakan reputasimu bagus saja. ” Cibir Namjoo.
” Ngomong-ngomong kenapa kau lama sekali? Tidak tahukah kau, aku ini pria yang berada di toilet wanita. ”
” Keluar saja sana. Aku hanya memintamu untuk mengantarkan, tidak menyuruhmu menunggu dan mengobrol denganku. ”
” Sial. ” Benar juga perkataan Namjoo. Jongdae sendiri yang memutuskan untuk menunggu Namjoo.
” Aku pergi. Simpan saja ucapan terimakasihmu untuk pulang nanti. Dan kau berhutang pizza padaku. ”

4 April 2009.
Jongdae mengambilkan pembalut untukku di ruang guru dan menungguku di kamar mandi perempuan meskipun ia harus menahan malu. Kekekeke.
Dia bilang dia sebal padaku karena harus membuatnya melakukan hal yang memalukan. Tetapi ketika istirahat ia malah membawakan sup untuk menghangatkan tubuhku. Dasar Kim Jongdae. Benar-benar tidak konsisten.
Ngomong-ngomong aku jadi teringat ketika kami masih kecil.
Saat aku pertama kali datang bulan ia marah padaku karena katanya aku akan meninggalkannya seperti wendy yang beranjak dewasa.
Padahal saat itu dia duluan yang sudah mau masuk sekolah menengah.
Ah aku pergi dulu. Seperti biasa ke Neverland!
——————————–

” Namjoo-ya ” Panggil Jongdae dengan semangat saat ia melihat Namjoo sudah duduk di kantin. Memasukkan makanan ke dalam mulutnya dengan lahap.
” Apa? ”
” Kau tahu di kelasku ada murid baru. Dia sangat cantik, senyumnya amatlah manis. ” Ucap Jongdae begitu bersemangat saat ia menceritakan tentang murid baru yang ada di kelasnya.
” Lalu? ” Tanya Namjoo cuek. Ia masih asik dengan makan siangnya.
” Ah kau tidak mengerti. Dia itu benar-benar baik, dia ramah. Kami sudah mengobrol beberapa kali. Dia benar-benar gadis yang luar biasa. Kau harus bertemu dengannya Namjoo-ya. “

Awalnya Namjoo tidak terlalu mempermasalahkan Jongdae yang sering membicarakan tentang Eunji di hadapannya. Terakadang Jongdae akan memujinya secara berlebihan. Lalu pandangan Namjoo terhadap Eunji berubah saat Jongdae datang memperkenalkan Eunji kepadanya. Sepertinya Namjoo terlahir secara alami untuk membenci Eunji.

Ia benar-benar tidak suka bagaimana Jongdae selalu membawa Eunji ke setiap hal yang mereka lakukan. Atau bagaimana Eunji selalu ada di sana tanpa merasa tidak enak pada Namjoo.
Namjoo tidak suka. Ia tidak suka bagaimana perhatian Jongdae sudah terbagi dua antara dirinya dan eunji ( atau mungkin sekarang 1/4 karena Jongdae tampaknya jauh lebih peduli kepada Eunji di banding Namjoo belakangan ini. )
Itulah sebabnya mengapa Namjoo belakangan ini memutuskan untuk tidak pergi bersama Jongdae. Atau lebih tepatnya Jongdae dan Eunji.
Karena saat mereka sudah berdua nampaknya mereka lupa bahwa masih ada Namjoo di antara mereka.
Jadi Namjoo memutuskan untuk menghabiskan waktunya sendiri.
Membaca buku, menonton tv atau mendengarkan musik.
Membosankan memang tetapi setidaknya lebih baik daripada harus menjadi obat nyamuk di antara Jongdae dan Eunji.

Namjoo berlari kecil. Sebuah senyum besar mengambang di bibirnya.
Ini pertama kalinya Namjoo ke Neverland lagi sejak… Eunji datang.
Semenjak kehadiran Eunji, jujur saja Namjoo dan Jongdae sudah jarang bersama lagi.
Jadi tentu saja Namjoo amat bahagia saat Jongdae mengajaknya untuk bermain di Neverland.
Hanya mereka berdua, bersama di Neverland.

” Namjoo-ya. ” Suara Jongdae yang memanggil Namjoo dari tengah-tengah ilalang-ilalang terdengar nyaring dan jelas. Padahal Namjoo baru saja menginjakkan kakinya di Neverland.
Namjoo mencoba menenangkan hatinya. Ia tidak mau terlihat terlalu excited di mata Jongdae. Bisa-bisa Jongdae akan meledeknya habis-habisan.
Namun betapa terkejutnya Namjoo saat ia melihat sosok lain yang tak seharusnya berada di Neverland, berada di sana. Tersenyum cerah kepada Namjoo.
” Namjoo-ya. ” Sosok itu memanggilnya dengan riang.
” Eunji-ya. ” Kata Namjoo lirih.
Ia kehilangan kata-kata untuk menyambut Eunji. Kedua bola matanya mulai tergengang air.
Ia tidak suka ini!
” Namjoo-ya. ” Suara langkah kaki sang pembuat masalah datang.
Jongdae menyambut Namjoo seperti biasa.
Namjoo langsung menolehkan wajahnya le arah Jongdae.
Menunjukkan wajah penuh amarahnya kepada Jongdae.
” Namjoo-ya apa ada yang salah? ” Dengan emosi yang semakin memuncak Namjoo langsung pergi meninggalkan Jongdae dan Eunji yang kebingungan melihat tingkahnya yang tiba-tiba berubah.
” Namjoo-ya, Kim Namjoo. ” Bahkan suara Jongdae yang memanggilnya tidak dapat menahan langkah kaki Namjoo untuk terus pergi, menjauh dari Neverland.
” Kim Namjoo. ” Namjoo tahu benar siapa yang menahannya saat ini.
” Ya! Ada apa denganmu? Kenapa kau seperti ini? Apa kau ada masalah? ” Jongdae langsung mencecari Namjoo dengan berbagai macam pertanyaan.
Karena ini pertama kalinya sahabatnya itu bertingkah seperti ini.
” Namjoo-ya, jika kau punya masalah katakanlah padaku. ” Kedua tangan Jongdae yang memegang pundak Namjoo hangat tak dapat meluluhkan emosinya sama sekali. Justru emosi Namjoo semakin memuncak melihat wajah pria di hadapannya.‘ Si brengsek. “ Umpatnya dalam hati.
” Kau ingin tahu apa masalahku? ” Tanya Namjoo ketus.
” Itu kau brengsek! ”
” Kupikir kau mengatakkan Neverland itu untuk kita berdua, tapi kenapa ada gadis itu? ”
” Hanya karena itu? ” Jongdae bertanya santai. Seolah itu bukan masalah besar bagi dirinya.
” Dengar, maaf karena sebelumnya tidak memberitahumu bahwa aku mengajak Eunji. Saat aku bercerita tentang Neverland kepadanya dia sangat antusias dan memintaku untuk membawanya. Jadi aku membawanya. Tidak apa kan Tink? ” Namjoo benar-benar tak percaya dengan kalimat santai yang keluar dari mulut Jongdae.
Seolah ia ini adalah gadis pengampun. Seorang malaikat.
Namjoo tak mengeluarkan satu kata pun dari mulutnya. Dia hanya berjalan pergi meninggalkan Jongdae dan Neverland.

13 Juli 2009
Benci!!!!!!! AKU BENCI KIM JONGDAE!!!!!
Dasar brengsek!!!
Bagaimana ia bisa membawa gadis itu ke Neverland? Ke Neverland kami???
Dasar pembohong!
Mananya yang Neverland hanya untuk kita?
Pergi saja bermain dengan dia! Aku akan berhenti menjadi temanmu!!
Nampaknya kau lebih menyukai bersamanya dibanding dengan diriku.
Kudoakan semoga kau bahagia.
Tertanda: Sahabatmu dulu, Kim Namjoo.

——————————–

” Kau masih marah padaku? ” Namjoo hanya berjalan melewati pria yang ia bahkan tak perlu repot-repot untuk memutar kepalanya agar bisa melihat wajahnya.
Karena dari saat sebelum Namjoo melangkahkan kakinya menuju keluar rumah, Namjoo sudah tahu pria ini akan berdiri di depan rumahnya.Siapa lagi kalau bukan Kim Jongdae.
Namjoo terlalu sering menghabiskan waktunya bersama Jongdae sampai-sampai ia tahu hawa kehadiran Jongdae.
Jadi Namjoo hanya berjalan melewati Jongdae dengan angkuh tanpa sekalipun menoleh ke arah Jongdae.
” Ya Kim Namjoo? Kau benar-benar marah padaku? Ayolah. Maafkan aku Namjoo-ya. ” Perkataan maaf dari mulut Jongdae malah membuat langkah kaki Namjoo bergerak semakin cepat. Meninggalkan Jongdae di belakang.
Dari cara bicara Jongdae, Namjoo tahu bahwa pria itu belum benar-benar sadar dimana letak kesalahannya.
Sial, kenapa sih ia menghabiskan waktu terlalu banyak dengan Jongdae?
Ia kini menyesalinya karena sekarang ia benar-benar tahu Jongdae luar dalam.

” Ya Kim Namjoo. ” Tangan kiri Jongdae menarik begitu saja tangan kanan Namjoo.
Membuat tubuh kecil Namjoo menjadi berputar. Berhadapan dengannya.
” Ya, mau sampai kapan kau marah padaku? Ini sudah 3 hari lebih dan kau masih marah padaku? Tidakkah kau rindu padaku? ”
” Iya aku masih marah padamu. Pikirkan saja dulu dimana letak salahmu Kim Jongdae. ”
” Baik Kim Namjoo, aku akui aku salah karena telah membawa Eunji ke tempat yang seharusnya menjadi milik kita berdua saja. Aku minta maaf. Aku salah. ” Kedua bola mata Jongdae menatap kedua bola mata Namjoo dengan sungguh-sungguh.
Ia benar-benar minta maaf.
” Jadi kau mengerti juga? Lalu kenapa kau lakukan? Kenapa kau membawanya kesana? Kenapa kau bersikap seolah itu biasa saja? Seakan itu bukan masalah penting buatmu? Apa kau tidak memikirkan perasaanku? Kau sendiri yang memintaku untuk tetap berada di sampingmu. Untuk tidak meninggalkanmu bahkan jika aku sudah menemukan teman yang baru! Namun apa yang kau lakukan? Maaf jika aku terlihat seperti gadis yang iri dan menyebalkan. Tapi inilah yang kurasakan. Aku tidak suka bagaimana kau selalu membawanya ke dalam persahabtan kita yang kau bilang dari dulu tidak akan pernah ada yang akan hadir di antara kita. Apakah aku terlalu naïf jika aku masih percaya akan janji-janji yang kita buat saat kita masih kecil? ” Namjoo sedikit meninggikan suaranya. Ia mengeluarkan semua unek-unek yang selama 3 hari belakangan ini ia simpan sendiri.
” Itu aku- ” Jongdae terlihat ragu. Ia tidak tahu harus menjawab apa.
Saat ini seakan semua kosakata yang selama ini ia pelajari sejak kecil melayang begitu saja.
Seakan tak ada kata-kata yang pas untuk menjawab pertanyaan Namjoo.
” Kau, menyukainya? ”
Jongdae melihat sekilas ke arah kedua bola mata Namjoo yang melihatnya dengan penuh kecemasan. Lalu ia memutuskan untuk menatap jalanan.
Ia tidak bisa, tidak bisa mendongakkan wajahnya apalagi menatap wajah Namjoo.
Tidak jika ia ingin menjawab pertanyaan Namjoo.
” Entahlah. ” Kata yang terasa berat itu akhirnya keluar juga dari mulut Jongdae.
Tak butuh waktu lama bagi Namjoo untuk mengerti maksud di balik kata entahlah itu.
Jongdae menyukainya.
Sahabatnya itu menyukai Jung Eunji.
Jadi Namjoo melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Jongdae yang masih terdiam pada tempatnya.
” Brengsek. ” Umpat Namjoo dalam perjalanannya.
——————————–

” Akh. ” Namjoo terjatuh saat ia menuruni tangga sekolah akibat menghindari Jongdae.
Namjoo mencoba berdiri namun rasa sakit di kakinya mengalahkannya.
Ia terduduk. Memegangi pergelangan kakinya yang terasa sakit.
” Kau terlihat menyedihkan tanpa Peterpan-mu Tinkerbell. ” Suara pria yang mengajak Namjoo berbicara terdengar asing. Namjoo mendongakkan kepalanya untuk melihat siapa pria itu.
” Pergilah. ” Adalah kata yang keluar dari mulut Namjoo begitu ia tahu siapa pria itu.
Melihat Jongdae bersama Eunji saja sudah membuat harinya terasa begitu buruk. Di tambah dengan ia jatuh dan kakinya terkilir. Dan sekarang pria yang sedang tersenyum lebar di hadapannya akan membuat harinya terasa lebih buruk dari apa yang bisa kau bayangkan.
” Aku akan pergi jika aku sudah melihatmu pergi. ” Kata pria itu dengan senyum. Senyum mengejek lebih tepatnya.
Namjoo bergumam kesal. Ia tahu pria ini hanya ingin melihatnya kesakitan.
Tapi Namjoo tak mau kalah. Dan dia juga tidak mau berlama-lama dengan pria yang melihat wajahnya saja sudah membuat Namjoo frustasi.
Dengan sekuat tenaga Namjoo mencoba untuk berdiri.
Ia menggigit bibir bawahnya. Mencoba menahan rasa sakit yang amat sangat terangat itu.
Dengan susah payah Namjoo menggapai pegangan anak tangga, dan perlahan berjalan menuruni tangga demi tangga.
” Akh. ” Kaki Namjoo tidak cukup kuat untuk menahan rasa sakit yang ia dapatkan dari pergelangan kakinya itu.
Tapi tunggu dulu- ada sebuah tangan, yang melingkar di tubuh Namjoo, yang mencegahnya dari berguling di anak tangga.
” Katakan padaku bahwa kau membutuhkan bantuanku. Dan aku akan menolongmu. ” Wajah pria yang secara tidak langsung mengusirnya tadi sedang tersenyum sombong sekarang.
Wajah Namjoo dan pria itu hanya berjarak beberapa inchi saja.
Bahkan Namjoo bisa menyentuh frame dari kacamata hitam kebesaran yang di pakai pria itu.
Namjoo menghela nafasnya.
” Tolong aku, Byun Baekhyun. ”

” Jadi apa kau dan Jongdae-mu sedang bertengkar? Nampaknya akhir-akhir ini kau jarang terlihat bersamanya. Sepertinya Jongdae lebih sering terlihat dengan Eunji. ”
” Bukan urusanmu apakah aku dan Jongdae bertengkar atau tidak. Dan tidak, dia bukan Jongdae-ku. ” Kata Namjoo menekan kata ku pada kata Jongdae-ku dengan pahit.
Baekhyun yang membantunya berjalan dengan memapahnya hanya tertawa kecil.
” Tentu itu urusanku. Kau tentu tahu dengan jelas hubunganku dengan Jongdae kan? Benarkah? Sepenglihatanku, kau ingin memilikinya kan? ”
Oh tentu Namjoo tahu dengan benar bagaimana hubungan Jongdae dan Baekhyun.
Mereka adalah rival sejati yang Namjoo sendiri tidak tahu kenapa Jongdae dan Baekhyun memutuskan untuk menjadi rival.
Yang Namjoo tahu, jika saat ini hubungannya dengan Jongdae masih baik-baik saja, maka saat ini juga Jongdae akan menariknya dan membentaknya karena terlihat sedang berduaan dengan Baekhyun.
Lalu otak Namjoo kembali berpikir akan kata-kata Baekhyun.
” Memilikinya? Jongdae? ” Tanya Namjoo tidak mengerti dengan maksud dari perkataan Baekhyun.
” Bukankah kau menyukainya? Karena kau menyukainya kau ingin memilikinya? Karena kau menyukainya makanya kau tidak suka membagi Jongdae-mu dengan Eunji? Bukankah seperti itu Kim Namjoo? ”
Namjoo seperti tertusuk oleh pedang tepat di hatinya begitu mendengar perkataan Baekhyun.
Menyukainya? Dia menyukai Jongdae?
Entah kenapa kalimat itu tidak terasa salah bagi Kim Namjoo. Namun ia juga tidak mau membenarkan kalimat itu.
Dia menyukai Jongdae. Kalimat itu terus terulang di otak Namjoo bagaikan lagu yang tak pernah selesai.
” Jangan bilang padaku, kau tidak menyadarinya? Bahwa kau menyukai Jongdae? ” Pertanyaan dari Baekhyun tidak di jawab oleh Namjoo

8 Agusutus 2009

Baekhyun bertanya padaku apakah aku menyukai Jongdae.
Lalu apa masalahnya?
Masalahnya adalah aku tidak bisa menjawabnya. Pertanyaan yang di tanyakan Baekhyun terasa lebih sulit daripada soal ujian untukku.
Kemudian aku berpikir. Apakah aku menyukainya?
Lalu pada saat itulah aku tahu jawabannya.
Bahwa aku mencintainya seperti bunga-bunga yang mencintai kupu-kupu.
Aku mencintainya seperti pohon yang mencintai hujan.
Aku mencintainya seperti malam yang mencintai bulan.
Aku mencintainya seperti surat yang mencintai perangko.
Aku mencintainya seperti seorang gadis mencintai seorang lelaki.
Aku mencintainya seperti itu.
Aku mencintainya sebanyak aku membutuhkannya.
Aku mencintainya sebanyak aku merindukannya.
Aku mencintainya sebanyak aku menginginkannya.
Aku mencintainya seperti itu.
Aku menginginkannya untuk terus berada di sampingku. Menggengam tanganku. Dan memanggil namaku. Selamanya.
Bukan karena Eunji aku marah kepadanya.
Tapi aku marah karena aku menginginkannya untuk diriku sendiri. Aku marah kepada diriku sendiri.
Aku marah bukan karena ia menyukai Eunji.
Itu karena hatiku sakit saat tahu bukan aku orang yang ia sukai. Aku marah pada diriku sendiri yang tak bisa membuatnya mencintaiku.Aku menangis bukan karena takut ia akan berpaling dariku. Aku menangis karena aku takut ia akan melupakanku.

Aku menangis bukan karena aku kecewa akan perbuatannya. Aku menangis karena aku patah hati.
Aku marah.
Aku menangis.
Aku cemburu.
Aku bahagia.
Itu semua karena aku mencintainya.
Aku tidak pernah tahu bahwa aku mencintainya.
Selama ini, kupikir jantungku yang terus berdegup kencang ketika bersamanya adalah hal wajar. Mungkin karena aku terlalu bahagia.
Kupikir diriku yang terus-menerus memikirkannya adalah hal yang wajar. Karena kita selalu bersama.
Kupikir diriku yang selalu ingin ada di sampingnya adalah hal yang wajar. Karena aku sudah terlalu terbiasa akan kehadirannya.
Namun aku salah. Aku terlalu bodoh hingga aku tidak bisa menyadari tanda yang sudah tubuh dan jiwaku berikan kepadaku.
Dan mungkin terlalu terlambat bagiku untuk membuatnya menyadari akan perasaanku.
Yang tulus mencintainya.
——————————–

” Namjoo-ya, apa impianmu? ” Tanya Jongdae kecil pada Namjoo yang sedang asik bermain rumah-rumahan di sampingnya.
” Aku? Hmm.. Impianku adalah hidup bahagia bersama pangeranku selamanya. ” Ucap Namjoo kecil antusias.
” Kau sendiri, apa impianmu? ” Tak butuh waktu lama sebelum Jongdae menjawabnya.
” Untuk membuatmu bahagia, selamanya. “

Bel tanda istirahat makan siang membangunkan Jongdae dari mimpi kecilnya. Lebih tepatnya mimpi akan kenangan masa kecilnya.
Satu waktu Jongdae pernah bertanya pada Namjoo apa yang Namjoo inginkan. Dan Namjoo menjawabnya dengan jawaban khas anak perempuan manapun hidup bahagaia bersama sang pangeran.
Lalu saat ia ditanya tentang mimpinya, ia menjawab untuk membuat Namjoo bahagia, selamanya.
Hingga untuk beberapa waktu yang lalu omongan Jongdae di masa lalu tetap menjadi impiannya.
Baginya membuat gadis yang selalu berada di sampingnya itu bahagia selamanya adalah impiannya.
Karena bagi dirinya, ketika Namjoo tertawa dengan bahagia ada sebuah kebahagiaan yang tak ternilai harganya.
” Jongdae-ya, kau tidak mau pergi ke kantin? ” Suara Eunji menyadarkan Jongdae dari lamunannya.
” Ayo. ” Jongdae langsung berdiri dari tempatnya duduk dan pergi mengajak Eunji.
Sesampainya Jongdae di kantin ia langsung di suguhkan dengan pemandangan yang paling tidak ingin ia lihat di dunia ini.
Namjoo dan Baekhyun. Sahabat dan Rivalnya, makan bersama di kantin.
Tanpa Jongdae sadari ia telah mengepalkan kedua tangannya. Bentuk kekesalannya.
” Jongdae-ya ada apa? ” Tanya Eunji yang bingung melihat Jongdae tiba-tiba menjadi diam.
Tak perlu waktu lama bagi Eunji untuk menyadari kepada siapa tatapan penuh kebencian di mata Jongdae itu di lemparkan.
” Ah, Namjoo dan Baekhyun?! Kulihat akhir-akhir ini mereka sering bersama. Apakah mereka sudah menjadi teman? ” Gumam Eunji yang membuat Jongdae menggertakkan giginya kencang-kencang.
” Persetan. ” Umpat Jongdae lalu berjalan cepat meninggalkan kantin.
” Ya Kim Jongdae! ” Teriak Eunji memanggil Jongdae yang tiba-tiba saja pergi meninggalkan dirinya.
” Brengsek. ” Baru Eunji akan melangkahkan kakinya menyusul Jongdae, Dia sudah berbalik kembali ke kantin dengan tatapan siap membunuh siapa saja yang berani menghalangi jalannya.
” Jongdae-ya. ” Kata Eunji lirih. Ia tidak berani memanggil Jongsae saat ini. Karena jujur, ia takut melihat Jongdae berubah menjadi menyeramkan seperti ini.

Tangan Jongdade tidak ragu-ragu menyambar tangan kecil Namjoo dan menariknya paksa.
” Akh. ” Namjoo mengerang kesakitan akibat perbuatan Jongdae.
” KIM JONGDAE! ” Pekik Namjoo saat ia tahu siapa orang yang tiba-tiba berlaku kasar kepadanya.
” Lepaskan. ” Ronta Namjoo mencoba untuk melepaskan tangannya dari cengkraman kasar Jongdae.
” Apa yang kau lakukan bersama si brengsek ini? ” Tanya Jongdae sedikit membentak.
Tak menjawab pertanyaan Jongdae, Namjoo malah sibuk mencoba melepaskan tangan Jongdae dari tangannya. Namun tak berhasil.
” KIM NAMJOO AKU TANYA PADAMU. APA YANG KAU LAKUKAN DENGAN SI BRENGSEK INI?!! ” Bentak Jongdae.
Kali ini Namjoo menatap mata Jongdae tak percaya.
” Apa yang kulakukan? Apakah itu penting untukmu? ” Tanya Namjoo sinis.
” Tentu saja itu penting untukku, kau tahu hubunganku dengannya kan? Kenapa kau masih bersama dengannya? ”
” Wow, si protektif Kim Jongdae kembali lagi. Ah ini menyebalkan. Ya! lepaskan dia. ” Ucap Baekhyun ikut campur sambil bermain-main dengan kupingnya.
Tangan Jongdae yang masih bebas langsung mencengkram kerah seragam Baekhyun.
” Bajingan jangan pernah kau berani mendekati dia atau kau- ”
” Atau apa? Kau tidak bisa mengatur hidupnya Kim Jongdae.Kau tidak lebih dari sekedar teman sejak kecil. Dan kami? Aku dan Namjoo menjalani persahabatan baru. Seperti yang telah kau dan dia lakukan. ” Baekhyun menunjuk kea rah Eunji. Baekhyun menyunggingkan senyum sinis sambil melepaskan cengkraman tangan Jongdae.
” Baekhyun tunggu. ” Kata Namjoo kepada Baekhyun yang hendak pergi.
” Kim Jongdae lepaskan tanganku. Benar kata Baekhyun kau tak berhak mengatur hidupku. Aku berhak berteman dengan siapapun itu. Aku bahkan tak melarangmu berteman dengan Eunji. Jadi minggir. ” Namjoo mendorong Jongdae kasar. Sangat kasar hingga rasanya hati Jongdae ikut hancur setiap kaki Namjoo melangkah lebih jauh darinya. Meninggalkannya.

” Kau tidak apa-apa? ” Tanya Baekhyun sambil memastikan bahwa Namjoo baik-baik saja.
Namun Namjoo tak menjawab pertanyaan Baekhyun. Ia menepis tangan Baekhyun yang memegang pundaknya.
Tanpa sepatah katapun terucap, Namjoo pergi meninggalkan Baekhyun.
Hatinya sakit.
——————————–

20 Agustus 2009

Aku bertengkar dengan Jongdae, lagi.
Kali ini dia yang marah besar padaku karena aku bersama dengan Baekhyun.
Tentu saja aneh jika Jongdae tak marah melihatku dengan Baekhyun.
Karena ia marah, bukankah itu artinya ia masih peduli padaku?
Tapi kenapa aku malah sedih dan pergi meninggalkannya?
Ah, itu karena Byun Baekhyun.
Hatiku sakit saat Baekhyun mengingatkanku bahwa Jongdae tidak lebih dari sekedar sahabatku sedari kecil.
Entah kenapa aku tak suka fakta bahwa kita hanya sahabat sedari kecil.
Aku tidak suka.
—————————–

Ada saat dimana Namjoo bersyukur akan fakta bahwa dirinya tinggal di lingkungan yang sama dengan Jongdae. Namun juga, ada saat dimana Namjoo menyesalinya. Seperti saat ini.
Namjoo mengutuk dalam hatinya, mengapa dari semua hari, semua jam, harus saat ini Namjoo berpapasan dengan Jongdae.
Namjoo sedang dalam perjalanan pulang dari warung dan Jongdae pergi ke warung. Namjoo ingin mencoba untuk berpura-pura tidak melihat Jongdae namun dia tidak bisa. Karena Jongdae benar-benar sedang berdiri di hadapannya.
Persetan dengan kebetulan, jodoh atau takdir.
Namjoo saat ini sedang tidak ingin bertemu ataupun berbicara dengan Jongdae.
Ia masih marah. Tak tahu pada siapa. Pada Jongdae, pada Eunji atau pada dirinya sendiri.
Namjoo berjalan melewati Jongdae. Namun tangan Jongdae berhasil menahan Namjoo untuk melangkah lebih jauh.
” Maafkan aku. Aku sudah kelewatan. ” Itu adalah kata pertama yang keluar dari mulut Jongdae.
” Maaf jika tadi aku sudah kasar padamu. Aku hanya- intinya kau tahu kan kenapa aku tadi seperti itu? ” Kata Jongdae lagi.
Namjoo tidak berbicara sama sekali. Ia tidak mau menatap mata Jongdae. Ia tenggelam dalam pikirannya sendiri. Entah apa yang Namjoo pikirkan.
” Aku salah. Maafkan aku Namjoo-ya. ” Kedua bola mata Jongdae menatap wajah Namjoo ( Namjoo masih tidak mau menatap Jongdae )
” Maafkan aku. Kau mau kan memaafkan aku Namjoo? ” Jongdae berharap bahwa Namjoo akan berkata iya.Bukannya mengatakan hal tidak masuk akal seperti ini.
” Jongdae, kita berhenti berteman saja. ” Kata Namjoo masih tak menatap Jongdae.
Shock, tangan Jongdae yang sedang menggengam lengan Namjoo terlepas.
Apa maksudnya ini?
Apa Namjoo sudah tidak waras?
Keduanya tercengang melihat satu sama lain.
Nampaknya Namjoo sendiri juga kaget dengan kata-kata yang barusan keluar dari mulutnya sendiri.

Namjoo mencoba mencari kata-kata yang terbaik untuk melanjutkan, mengganti atau apalah itu. Apapun asal ia bisa menarik kembali kata-kata barusan.
Atau memperbaikinya.
Tetapi mulut Namjoo seakan terkunci. Seakan tidak bisa terbuka bahkan hanya untuk mengatakan sepatah katapun.
Namjoo tak tahu apa yang telah terjadi pada dirinya.
Maka ia berlari.
Pergi meninggalkan Jongdae yang masih mematung karena ucapan gila Namjoo.
——————————–

21 Agustus 2009

Pernahkah kau menyesali sesuatu yang terjadi Diary?
Aku pernah.
Saat ini aku sedang menyesalinya.
Aku tidak tahu kenapa aku mengucapkan kalimat mengerikan seperti itu.
Aku tidak tahu.
Ada apa dengan diriku  Diary?
Jongdae-ya maafkan aku, sungguh maafkan aku. Aku tidak bermaksud begitu. Aku sendiri tidak tahu kenapa aku berbicara begitu.
Jongdae-ya… Aku ingin bersamamu, selamanya.

——————————–

Ada yang berkata bahwa gedung bertingkat tinggipun masih bisa runtuh oleh sentuhan angin.
Seperti itulah Namjoo dan Jongdae.
Siapa yang tahu bahwa malam itu adalah akhir dari mereka.
Dari Namjoo dan Jongdae.
Akhir dari persahabatan mereka selama bertahun-tahun.
Seperti timur dan barat.
Laut dan langit.
Mereka menghabiskan masa SMA mereka dengan bertingkah seperti tak mengenal satu sama lain.
Bagaikan semua memori dan kenangan yang sudah di bangun bertahun-tahun itu tidak pernah ada.
Tidak masuk akal memang. Bagaimana mungkin Namjoo dan Jongdae yang selalu menempel kepada satu sama lain bisa berakhir seperti ini.
Tetapi itulah yang terjadi.
Tidak ada alasan pasti kenapa mereka memutuskan untuk berakhir seperti ini.

Mungkin. Jongdae kecewa akan ucapan Namjoo.
Mungkin bagi Jongdae tak seharusnya kata-kata itu keluar dari mulut Namjoo dengan mudahnya. Walaupun itu sebuah kesalahan, ketidaksengajaan. Tak seharusnya Namjoo berkata-kata kejam seperti itu.
Mungkin, Namjoo kecewa pada dirinya sendiri yang telah mengucapkan kata-kata itu tanpa berpikir panjang untuk kedua kalinya.
Mungkin, mereka tidak tahu bagaimana caranya memperbaiki semua kerusakan ini.
Mungkin, memang seharusnya seperti ini.

Mereka menghabiskan masa SMA mereka tanpa bertegur sapa satu sama lain.
Ketika mereka ditanya oleh orang-orang apakah mereka bertengkar atau apa yang terjadi kepada mereka. Mereka lebih memilih untuk diam.
Terkadang mereka mengetahui kabar masing-masing dari teman mereka yang lain ( yang sengaja memberi kabar )
Seperti halnya hubungan Jongdae dan Eunji yang kandas begitu mereka lulus.
Ya, Jongdae dan Eunji berpacaran.
Namjoo tak tahu kapan pasti mereka mulai berpacaran. Atau bagaimana kisah cinta mereka terjalin.Atau siapa duluan yang mengatakannya.
Namjoo tidak tahu.
Tetapi rumor mengatakan bahwa Eunji duluan yang menyatakannya.

Semua perpisahan itu sulit.
Begitu yang Namjoo dengar.
Namjoo tahu bahwa Jongdae pasti sedang merasa sedih.
Putus dari Eunji, lalu ada yang bilang bahwa Jongdae akan pergi ke luar kota untuk melanjutkan kuliahnya. Jongdae tidak terlalu suka dengan ide pergi meninggalkan rumah. Katanya sih ia akan sedih karena itu artinya ia harus meninggalkan keluarganya, Neverland dan Namjoo.
Apalagi sekarang Namjoo tidak ada di sisinya. Apa Jongdae bisa baik-baik saja melewati semua itu?
Bolehkan Namjoo sedikit percaya diri bahwa Jongdae akan kesulitan tanpa dirinya?
Karena Namjoo sendiri tidak baik-baik saja tanpa Jongdae di sisinya.

Jadi ketika Namjoo berjalan melewati rumah Jongdae, ia berhenti sejenak. Mengambil secarik kertas dan pulpen.
Merangkai kata-kata menjadi kalimat-kalimat.
Lalu ia menaruhnya di kotak pos rumah Jongdae.
Seperti dulu.
Dulu Namjoo suka menulis sesuatu untuk Jongdae lalu ia taruh di kotak pos.
Seperti, besok mau pergi bermain? Aku suka lagu beyonce. Tarianmu jelek dan lain-lain.
Ah indahnya masa lalu.

Apakah itu kebetulan, takdir atau jodoh. Yang jelas di hari itu Jongdae yang nampak acak-acakan ( sepertinya dia memang memiliki waktu yang sulit ) pergi melihat isi kotak posnya.
Tentu saja ada surat yang Namjoo tulis tadi.

” Kau tahu Peterpan? Sebuah tempat di antara tidur dan terjaga? Tempat dimana kau bisa mengingat mimpimu? Disanalah aku akan menunggumu, disanalah aku akan selalu mencintaimu. -Tinkerbell ”
Namjoo tidak menuliskan namanya di surat itu. Tapi bukan berarti itu membuat Jongdae tidak tahu siapa pengirimnya.
Tinkerbell-nya. Yang mengirimkan surat berisi kata-kata manis untuk dirinya.
Tinkerbell-nya yang akan selalu ada untuknya.

Kau tahu Tink, kau adalah segalanya bagiku. –Peterpan
——————————–

21 Oktober 2011

Aku bertemu lagi dengan Jongdae. Bukan diary, bukan berpapasan atau sekedar melihat dari jauh. Kami benar-benar bertemu.
Kami bertegur sapa.
Dan…..
Ihihihi haruskah aku memberi tahumu diary?

——————————–

Suatu hari biasa seperti hari-hari lainnya di musim gugur.
Atau begitu yang Jongdae kira.
Ia meminum habis air putih dalam kemasan. Dehidrasi sehabis latihan. Sebagai mahasiswa fakultas musik jurusan tarik suara. Meminum air sehabis latihan adalah hal yang paling di perlukan. Jongdae menghela nafasnya. Ini melelahkan.
Latihan untuk festival seni sekolah.
Jongdae tidak pernah mau untuk ikut festival-festival semacam itu. Hanya ia tidak suka.
Tapi teman-temannya memaksanya, membuat Jongdae terpaksa menyanggupinya.
” Hei. ” Sebuah tepukan di pundak Jongdae menyadarkannya dari betapa lelahnya dirinya.
” Penampilanmu luar biasa. Sungguh suatu kehormatan kau mau tampil di festival seni kampus kita. ” Kata lelaki bertubuh sedikit lebih pendek dari lelaki kebanyakan. Mata belo-nya menatap Jongdae dengan hangat.
Kyungsoo nama lelaki itu.
” Tentu saja. Aku juga senang dapat bergabung dengan festival tahun ini. ” Kata Jongdae tersenyum.
” Menyenangkan bukan? Kurasa festival tahun ini akan menjadi yang paling meriah. Selain ada dirimu, banyak wanita-wanita cantik dan berbakat yang ikut berpartisipasi tahun ini. Yah, memang sekolah kita di penuhi oleh orang-orang berbakat. Namanya juga Seoul of Art University. ” Kyungsoo sumringah.
Sebagai panitia yang menyelenggarkan festival tahun ini tentu saja Kyungsoo bangga pada pengisi acara-nya.
Jongdae hanya mengangguk. Ia tidak terlalu peduli akan pengisi acaranya toh ia ikut festival ini hanya untuk sekedar membantu saja.
” Nah, itu dia salah satunya. Kim Namjoo. ” Baru mendengar namanya saja sudah membuat jantung Jongdae berdebar-debar. Excited akan kehadiran Kim Namjoo yang disebut-sebut oleh Kyungsoo.
Pandangan Jongdar dan Kyungsoo tertuju pada gadis dengan rambut panjang terikat buntut kuda, dengan poni yang sejajar dengan alisnya.
Gadis itu nampak sedang tertawa bahagia bersama kedua pria di sampingnya.
” Dia gadis yang menarik, tidakkah kau berpikir begitu? Dia sangat enerjik. Aku sangat berharap banyak padanya untuk festival ini. ” Begitulah kira-kira yang Kyungsoo katakan pada Jongdae. Karena Jongdae tidak terlalu perhatian pada apa yang Kyungsoo ucapkan. Seluruh perhatiannya tertuju pada gadis yang sedang tertawa bahagia bersama teman barunya.
” Ya, dia memang selalu menjadi gadis yang menarik. ” Gumam Jongdae sambil terus menatap Namjoo.

” Ya Yook Sungjae! ” Namjoo memukul dada lelaki yang sedang tertawa bahagia sambil merangkulnya itu.
” Tapi aku serius Namjoo-ya, kau memang harus mengganti koreo-mu. ” Ucap lelaki yang tadi di panggil Sungjae itu.
” Aku tidak tahu bahwa kau semenyebalkan ini. Ayo kita tinggalkan saja dia Hyuk! ” Namjoo menarik tangan pria yang sedari tadi ada di samping kanannya.
” Jangan marah dong Kim Namjoo. ” Sungjae menahan tangan Namjoo yang hendak pergi.
Tapi Namjoo tidak perduli. Sedangkan Sang Hyuk atau lelaki yang biasa di sapa Hyuk hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan teman-temannya ini.
” Oh itu Kyungsoo Sunbae dan Jongdae Sunbae. ” Kata Sungjae senang melihat Kyungsoo dan Jongdae yang sedari tadi memperhatikan mereka.
Sungjae menarik tangan Namjoo mendekati Kyungsoo dan Jongdae.
Ulangi, Kyungsoo dan Jongdae.
Tuhan, kenapa dari semua saat harus saat Namjoo sedang asik bersama Sungjae dan Hyuk ia malah bertemu dengan Jongdae.
Dengan cepat Namjoo melepaskan tangannya dari tangan Hyuk dan tangan Sungjae dari tangannya.
Ia tidak mau lelaki manapun menyentuhnya. Tidak di depan Jongdae.
Namjoo tahu amat sangat tidak sopan jika kau tidak memperhatikan apa yang sunbae-mu katakan.
Tadi siapa yang perduli. Bagi Namjoo yang terpenting adalah lelaki yang sedang berdiri dengan canggung di hadapannya ini.
Dua tahun tak bertemu nampaknya Jongdae terlihat sama juga berbeda.
Jongdae nampak lebih tinggi, rambut di cat dengan warna coklat, dia juga nampak lebih kurus dari yang terakhir Namjoo lihat.
Dan tentu saja, Jongdae menjadi jauh lebih tampan dari terakhir mereka bertemu.
Namjoo tidak tahu bahwa ia merindukan lelaki yang sedang salah tingkah karena Namjoo menatapnya dengan lekat tepat di wajah Jongdae.
Namjoo sangat merindukan lelaki ini.
Namjoo rindu Kim Jongdae.
Dia merindukan Peterpan-nya.

” Kim Namjoo-ssi saya senang kau mau ikut bergabung dengan festival kampus kami. ” Uluran tangan Kyungsoo mengalihkan tatapan Namjoo dari Jongdae.
Huft, Jongdae bisa bernafas lega sekarang.
Kini giliran Jongdae yang menatap Namjoo yang sedang tersenyum manis pada Kyungsoo.
” Suatu kehormatan untuk mahasiswa baru sepertiku untuk ikut bergabung di festival Sunbae. ” Namjoo tersenyum.
Dia memang selalu seperti itu, selalu tersenyum ceria kepada siapapun. Salah satu sifat Namjoo yang Jongdae suka.
Lalu gadis itu dan Kyungsoo dan kedua teman Namjoo yang Jongdae lupa siapa saja nama mereka terlibat dalam sebuah percakapan.
Jongdae tidak mau repot-repot ikut bergabung atau setidaknya berpura-pura untuk mengerti.
Ia hanya ingin menatap Namjoo yang sedang tertawa manis.
Jongdae baru menyadari bahwa waktu sudah berjalan cukup lama. Ia sangat merindukan tawa manis dari Kim Namjoo. Karena rasanya baru kemarin Jongdae-lah yang menciptakan tawa di wajah Tinkerbell-nya itu. Namun sekarang Tinkerbell-nya itu mampu tertawa dengan manis bukan hanya karena dirinya saja. Itu menyakitkan untuk Jongdae. Namun tidak apa asalkan Namjoo bahagia, ia juga ikut bahagia.
Jongdae tidak tahu apa yang terjadi tiba-tiba percakapan sudah selesai karena Kyungsoo mengatakan ia harus pergi karena ada kelas.
Begitupula dengan Namjoo dan teman-temannya.
Mereka juga berpamitan dengan Jongdae.
Namun Jongdae dapat mendengar dengan pasti saat Namjoo berkata.
” Ya Sungjae-ya, Hyuki-ya. Aku ke kamar mandi dulu ya. ”
——————————–

” Kau belum berubah juga Jongdae-ya. Kukira kau sudah lupa. ” Kata Namjoo yang sedang berdiri di pintu masuk kamar mandi wanita ketika ia melihat sosok Jongdae mendekat kearahnya.
Tentu saja, Jongdae masih ingat setiap detail kenangan yang mereka bangun bersama.
Tak terkecuali ini. Biasanya Namjoo akan memberikan isyarat pada Jongdae dengan berkata ” Aku ke kamar mandi dulu ya. “ ketika Namjoo bosan dengan teman-teman perempuannya. Menyuruh Jongdae untuk menyelamatkannya.
” Kau sendiri juga masih ingat. ” Kata Jongdae pelan namun dapat di pastikan Namjoo dapat mendengarnya. Namjoo hanya tersenyum tipis.

Jongdae dan Namjoo berjalan perlahan, kemana saja ke arah kaki mereka melangkah.
” Jadi bagaimana kabarmu? ” Tanya Jongdae tak menatap ke arah mata Namjoo. Ia lebih memilih menatap ke arah sepatunya.
” Baik tidak baik. ” Jawab Namjoo yang juga tidak melihat ke arah Jongdae.
Suasana di antara mereka sedikit canggung tapi Namjoo tak keberatan. Ia menyukainya.
Ia menyukai apapun, asalkan Jongdae berada di sampingnya.
Seperti saat Namjoo tak suka pada gurita yang di anggapnya bukan makanan. Lalu Jongdae akan menyodorkannya gurita dan menyuruhnya untuk makan.
Aneh, gurita itu rasanya tetap aneh. Tapi Namjoo tetap bisa menelannya hingga terakhir.
Karena Jongdae.
” Aku tidak baik-baik saja. ” Kata Jongdae menginformasikan tentang dirinya sendiri kepada Namjoo.
” Aku merindukanmu. ” Kata Jongdae sambil akhirnya menatap Namjoo.
Perkataan Jongdae, tatapan Jongdae, berhasil membuat Namjoo sadar bahwa 2 tahun tidaklah cukup untuk melupakan pria yang mengatakan bahwa dia merindukan Namjoo.
Tidaklah cukup untuk menghapus kenangan pria itu bersama dirinya.
Tidak cukup untuk menghapus rasa cinta Namjoo.
Karena Namjoo jatuh cinta dan jatuh cinta lagi pada pria yang mengaku merindukannya itu.
Namjoo tidak tahu apakah dia harus senang atau tidak mendengar kata rindu dari Jongdae.
Ia takut, bahwa kata rindu itu hanya akan jadi kebahagiaan sesaat saja.
Tapi tak apa, bahkan jika hanya sesaat. Namjoo bahagia asal Jongdae bahagia.
” Aku juga. ” Kata Namjoo pelan sangat pelan namun Jongdae masih bisa mendengarnya.
Jongdae tersenyum tipis mendengar jawaban Namjoo.
” Kau sudah dengar tentang Neverland? ” Tanya Jongdae.
Ah Neverland, tempat yang mereka pikir akan selalu disitu kini sudah tiada.
Seseorang membeli tanah kosong yang mereka namakan Neverland itu dan membangun rumah di atasnya.
Tak ada mereka bisa perbuat selain merelakan Neverland mereka kini menjadi Neverland untuk orang lain.
” Iya aku sudah mendengarnya. ” Dari nada Namjoo menjawab terdengar sebuah kesedihan di dalamnya.
Bagaimana tidak, Neverland adalah hadiah dari Jongdae untuk Namjoo. Dan kini hadiah itu, hilang begitu saja.
Tapi tunggu dulu, jika satu sama lain tentang Neverland yang sudah tiada. Bukankah itu artinya mereka masih perduli akan persahabatan mereka? Masih perduli akan ‘mereka’.
” Aku akan mencarikannya lagi untukmu. ”
” Apa? ”
” Neverland. ” Dan Namjoo terdiam sejenak setelah mendengar perkataan Jongdae.
Dia tahu Jongdae bersungguh-sungguh, hanya saja…
” Kau tidak perlu repot. Aku baik-baik saja. Lagipula kita juga sudah seperti ini, Jongdae-ya. ” Untuk pertama kalinya semenjak malam itu, Namjoo mengucapkan nama Jongdae.
Jongdae menyukainya. Ia suka. Hingga rasanya jantungnya bisa meledak.karena terlalu menyukainya.

” Jadi kau sudah menemukannya? Wendy? ” Tanya Namjoo.
Tentu saja ini adalah hal yang paling Namjoo penasaran sedari dulu. Apakah Peterpan sudah menemukan Wendy-nya atau belum.
Namjoo tahu diri. Dia tidak banyak berharap.
Tinkerbell harus tahu dimana posisinya.
” Belum, dan aku tidak akan mencarinya. ” Jawab Jongdae enteng yang membuat Namjoo bingung.
” Kenapa? ”
” Kupikir Peterpan tidak harus menunggu Wendy. Atau mencari Wendy. Malah sebaliknya, mungkin dia tidak harus mencari sama sekali. Karena mungkin yang Peterpan butuhkan hanyalah Tinkerbell seorang. Kau tahu Tink, kau lebih berharga dari apapun di dunia ini untukku. ” Jongdae menghentikkan langkah kakinya. Ia mengucapkan semua kalimat barusan sambil menatap mata Namjoo dalam-dalam.
Namjoo hanya bisa menelan ludahnya untuk mengairi tenggorakannya yang tiba-tiba kering.

“ Aku baru bisa mengerti setelah kau pergi. Setelah kau tak lagi di sampingku. Itu bukan sebuah kenaifan, untuk mempercayai semua janji-janji kita saat kita kecil bukanlah sebuah kenaifan. Karena aku, berdiri di sini untuk menepati janji yang telah aku buat padamu saat kita masih belum memahami apa arti kita untuk satu sama lain. Apa artimu di hidupku. Aku, berdiri di sini untuk menepati janji kita untuk selalu bersama. Karena aku memang bukan apa-apa tanpamu. Aku tidak tahu bagaimana kau bisa menghabiskan waktu 2 tahun tanpa aku. Yang jelas aku bukanlah aku yang sepenuhnya tanpamu di sisiku. Maafkan aku karena terlambat menyadari apa arti dirimu di hidupku Kim Namjoo. aku mencintaimu. ”
Tiba-tiba saja seluruh tubuhnya berhenti bekerja.
Bahkan ia merasa seakan jantungnya berhenti berdetak.
Namjoo tidak tahu harus berkata apa, ia tidak tahu harus bereaksi apa.
Otaknya belum pernah membuat sebuah jawaban untuk keadaan saat ini.
Karena Namjoo pikir keadaan saat ini tidak akan pernah ada.
” Ayo kita mulai lagi dari awal. ” Jongdae tersenyum sambil mengulurkan tangannya.
” Namaku Kim Jongdae dan kamu? ” Namjoo tidak begitu mengerti dengan apa yang Jongdae lakukan namun Namjoo membalas uluran tangan Jongdae.
” Maukah kau menjadi temanku? Ah tidak. Aku tidak mau kau menjadi teman. Apakah kau mengizinkanku, untuk menjadi sesuatu yang lebih dari temanmu? Wahai Tinkerbell-ku. ”
——————————–

Epilog.

” Ya Kim Jongdae kenapa kau menolak masuk Seoul of Art University? ” Seorang teman bertanya pada Jongdae yang sedang sibuk mendengarkan lagu lewat headsetnya.
” Tidak apa-apa aku hanya merasa bahwa disini jauh lebih baik daripada Seoul. ” Jawab Jongdae ringan, yang membuat temannya ternganga dibuatnya.
Jongdae punya semuanya untuk pergi ke Seoul untuk melanjutkan sekolahnya ke tempat yang lebih baik daripada di kota ini.
Suara yang bagus. Izin yang mudah di dapat.
Kenapa Jongdae melepaskannya begitu saja?

” Kau bisa pergi ke Seoul Jongdae! Oh My God! Aku tidak menyangka akan mempunyai teman di Seoul. ” Kata Namjoo beteriak dengan semangat saat Jongdae memberitahunya bahwa ia bisa ke Seoul karena sertifikat yang ia dapat sehabis menang sebuah lomba.
Saat itu. Saat mereka masih baik-baik saja.
” Kau juga, ikutlah denganku ke Seoul. ” Ajakan Jongdae langsung membuat Namjoo cemberut.
” Kau tau kan aku tidak bisa. Aku memang pintar menari. Kemampuanku cukup bagus di kota ini. Tapi tidak untuk Seoul. ”
” Aku juga, maka dari itu ayo kita berjuang bersama-sama. ”
” Tidak, kau yang terbaik di kota ini, dan kau yang terbaik  juga di Seoul. Kau pergilah, aku akan menjaga Neverland sambil menunggumu kembali. ” Kata Namjoo yang takkan pernah bisa di lupakan Jongdae. Selamanya

_______________________________________________________

hhaallloooo yaampun gak nyangka udah lama banget gak publish apapun.

sebenernya oneshoot ini udah lama banget kelarnya dan gaktau kenapa baru sekarang di publish.

maafkan author yang tidak bertanggung jawab menelantarkan readers dan blog ini.

author janji akan lebih aktif lagi. sekarang juga author sedang banyak menulis. tolong doakan ya ^^

dan untuk part of me is… part 4 nya diusahakan sebentar lagi.

seperti biasa kalo ada krtik,saran dll silahkan tulis di komen. author siap menerimanya.

ohiya author harap kalian gak bingung sama mana flashback, mana isi diary tinkerbell sama mana kata” peterpan sama tink.

ff ini di buat sebelum adanya jookerbell. karena emang image namjoo tuh cocok banget sama tinkerbell. dan semoga kalian suka crackship ini.

love ya

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s